Halloween party ideas 2015


SUKADANA, JNNews -- Kasus Bully di SDN 1 Pekalongan Lampung Timur mendapat respont dari beberapa element di Lampung Timur, Selasa (30/01).

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Rini Mulyati, mendapat kabar kekerasan dalam lingkup sekolah di SDN 1 Pekalongan, Kecamatan Pekalongan, Kabupaten Lampung Timur dengan tegas menyatakan bahwa hal tersebut segera di tindaklanjuti.

“Terkait Bully dan kekerasan disekolah, kami sangat menyayangkan pengawasan dari pihak pengajar di sekolah tersebut, karena yang saya baca di media, pihak orang tua korban sudah memberitahukan kepada pihak sekolah bahwa anak nya telah mendapati perlakuan yang tidak pantas, namun pihak sekolah tetap tidak merespont dengan cepat," kata Rini saat di wawancarai di kediamannya.

Lebih jauh Ketua LPAI Lampung Timur ini menyesalkan jika hingga saat ini belum ada respont positif terkait bullying disekolah tersebut. "Saya dan kawan-kawan akan segera menindaklanjuti, agar kedepan di lingkup sekolah tidak ada lagi kekerasan terhadap siswa dalam menimba ilmu,” katanya.

Dilain pihak, Ketua Laskar Merah Putih Kabupaten Lampung Timur, Amir Fiasol, menyesalkan minimnya respont pihak sekolah dasar 1 Pekalongan. "Bila ada pembiaran terhadap kasus bully, apa lagi sudah mengakibatkan luka fisik, maka saya berharap pihak sekolah dapat dipanggil oleh intansi terkait. Agar kasus bullying di sekolah tidak terulang lagi dan bagi para pengajar dapat lebih aktif dalam pengawasan disekolah," kata Amir.

Pemberitaan sebelumnya, Ahmad Baherman, wali murid salah seorang siswa SDN 1 Pekalongan, Lampung Timur, sedang gundah sekaligus prihatin. Itu semua dipicu oleh tindak kekerasan yang dilakukan kakak kelas anaknya terhadap buah hatinya. Akibatnya, anaknya mengalami luka hingga meninggalkan bekas lebam di tubuhnya.

Celakanya lagi, tindak kekerasan tersebut sudah acapkali merundung anak Ahmat. "Awalnya saya meminta istri saya untuk mengadukan kejadian ini ke pihak guru di sekolah, dengan harapan kakak kelas pelaku kekerasan itu bisa ditegur dan tidak mengulangi tindakannya lagi," terang Ahmat, Senin (29/1).

Namun, sambungnya, bukannya tindakan kekerasan berhenti, beberapa hari berselang anaknya kembali mengalami tindakan kekerasan dari kakak kelasnya. Bahkan terdapat bekas lebam di bagian punggungnya. Saat ditanya, si anak mengaku itu akibat tindakan kakak kelasnya. Bahkan dia juga mengatakan sudah kerapkali mengalami kekerasan semacam itu. "Karena saya nilai ini sudah membahayakan keselamatan anak saya, maka saya mengantarkan langsung anak saya ke sekolah," ucap Ahmad.

Awalnya dia akan membicarakan hal yang dialami anaknya ke pihak sekolah. Namun niatnya diurungkan. Ahmad memilih akan melaporkan hal itu disaat jam pulang sekolah.

Namun pada saat memasuki waktu istirahat, tutur Ahmad, dirinya yang terus mengawasi dari kejauhan keberadaan anaknya, dibuat kaget bukan kepalang. Lantaran dia dengan mata kepala sendiri melihat bagaimana ada seseorang murid yang tengah mencekik leher anaknya. "Sebagai orangtua saya jelas tidak bisa menerima hal itu terjadi pada anak saya. Maka saya langsung membawa anak saya untuk melapor ke guru," serga Ahmad.

Sangat disayangkan, imbuhnya, laporan yang disampaikan ke pihak guru, bahkan sampai menunjukkan bekas lebam di punggung anaknya, hanya direspon dingin saja oleh para guru. Sementara saat itu kepala sekolah sedang tidak berada di tempat.

"Kakak kelas yang kami laporkan pun tidak dipanggil oleh pihak sekolah, supaya bisa dikroscek langsung, sekaligus yang bersangkutan bisa diperingati supaya tidak mengulangi perbuatannya. Itu semua tidak dilakukan," sesal Ahmad.


Dia pun mengutarakan, motivasi menyekolahkan anaknya di SDN 1 Pekalongan, lantaran menganggap dari segi kualitas pendidikan di sekolah ini tidak kalah dari SD di Kota Metro. "Tapi sekarang saya kecewa dengan sikap pihak sekolah yang menganggap sebuah tindakan kekerasan bukan merupakan hal serius," tukas Ahmad. (apri)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.