Halloween party ideas 2015



SUKADANA, JNNews  -- Terkait Sidang Kasus Dugaan Pencabulan dibawah umur dengan pelaku berinisial (NH), orang tua korban FYS 14 tahun dan IPS 15 tahun. Terpukul saat pengacara terdakwa tanyakan ke anak bagaimana cara pelaku mencabuli, Rabu (25/04).

Ungkapan kesedihan orang tua korban kasus pencabulan anak dibawah umur diungkapkan saat menemui Tim Lembaga Perlindungan Anak Indonesia Kabupaten Lampung Timur (24/04). Orang tua korban menerangkan bahwa pada saat sidang pertama, saat anaknya dihadapkan diruang sidang, ditanya oleh pengacara yang diduga pelaku pencabulan dengan tanpa mengedepankan akidah dalam berbahasa.

"Sakit dan Shok saya saat mendengar pengacara itu mempertanyakan bagaimana cara pelaku pencabul melakukannya terhadap anak saya dan pertanyaan itu ditujukan langsung kepada anak saya," kata ayah dan ibu korban.

Lebih jauh orang tua korban pencabulan dibawah umur menjelaskan bahwa dalam sidang banyak sekali pertanyaan-pertanyaan pengacara yang dirasa tidak etis dikeluarkan didepan anak mereka. "Perkataan dalam pertanyaannya sangat membuka kembali luka yang sampai saat ini masih kental kami rasakan, sampai saya tidak kuat mengenangnya sehingga saya menangis lemas diruang sidang," kata ayah korban sembari meneteskan air mata.

Orang tua korban mengharapkan, jika pelaku dapat hukuman yang seberat beratnya, karena bukan hanya satu korban saja. "Anak saya saat ini sudah malu untuk sekolah, anak saya sudah hancur masa depannya, anak saya rusak mentalnya. Saya sangat berharap kepada hakim dan jaksa agar dapat memberikan hukuman yang setimpa,” tutup orang tua korban.

Dilain pihak, saat dikonfirmasi, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia Kabupaten Lampung Timur Rini Mulyati, mengatakan sangat menyesalkan atas sikap pengacara dari pelaku pencabulan anak di dalam persidangan tersebut sebab pertanyaan tersebut itu dilontarkan tanpa memperhatikan hak-hak, anak salah satunya hak untuk mendapat perlindungan dari keadaan yang menurut sifatnya belum  layak untuk dilihat anak.

"Sebenarnya dipersilahkan bagi pengacara tersebut untuk membela pelaku di persidangan, namun karena korban bukan hanya menderita trauma fisik akan tetapi juga trauma psikis akibat kejadian pencabulan tersebut, intinya silahkan lakukan pembelaan sebagai pengacara namun mohon perhatikan juga hak-hak anak Indonesia yang menjadi korban kekerasan,” ujar Rini.

Ketua LPAI Kabupaten Lamtim ini mengharapkan element-element terkait perlindungan anak jangan pernah berpihak pada pelaku kekerasan dan pencabulan anak-anak di Kabupaten Lampung Timur ini,  agar monster monster cabul sempit ruang geraknya, itu semua demi terlaksananya cita cita Kabupaten Lampung Timur layak anak.

"Saya berharap kerjasama yang baik dari segala pihak untuk mewujudkan kabupaten layak anak, terlebih di era kepemimpinan bupati sekarang ini sudah di bentuk group KLA (Kabupaten layak anak), di dalam grup yang terdiri dari semua elemen lembaga-lembaga masyarakat penggiat perlindungan terhadap anak.

"Saya mengajak teman-teman untuk sama bekerja dan berusaha semaksimal mungkin dengan segala keterbatasan, dan kami berkomitmen untuk menjadikan gerakan stop kekerasan terhadap anak menjadi langkah awal mewujudkan Lampung timur sebagai kabupaten layak anak,” kata Ketua LPAI Kabupaten Lamtim.

Sebelumnya, di hadapan sejumlah awak media, salah satu Advokat dari terdakwa mengaku bahwa dirinya tergabung dalam organisasi Lembaga Perlindungan Anak untuk Provinsi Lampung (LPA-KPAI.Red). Akan tetapi anehnya pengacara yang mengaku tergabung dalam organisasi tersebut justru malah membela pelaku.

Pelaku yang berinisial NH di laporkan ke Polres Lampung Tmur oleh pihak keluarga korban setelah diketahui melakukan aksi bejatnya terhadap dua orang gadis yang masih di bawah umur, kedua korban berinisial FYS 14 tahun dan IPS 15 tahun.

Demi perimbangan berita, awak jurnalis akan mengkonfirmasi pengacara yang disebut. (apri)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.