Halloween party ideas 2015



BANDAR LAMPUNG -- Jaksa Penuntut Umum menghadirkan Asep Hendrian (38) warga Jalan Ikan Bawal, Bumiwaras, Bandar Lampung bersama tiga saksi dalam persidangan kasus dugaan penyelundupan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal.

Jaksa Roosman Yusa mengatakan Asep didakwa Pasal 81 juncto Pasal 69 UU Nomor 18/2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Karena ia mencoba menyelundupkan 8 pekerja ke Malaysia tanpa dokumen resmi.

Ketiga saksi yang dihadirkan Jaksa yakni Juliana selaku Kepala Cabang PT. Mangga Dua cabang Lampung yang merupakan penyalur resmi TKI, kemudian Brigadir Andre anggota Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda serta Rizki Rahmat penjaga penginapan.

Juliana dalam kesaksiannya di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Selasa (10/7) membantah Asep merupakan agennya. Sebab Asep, kata dia, mencatut nama perusahaannya. Dia kata saksi ini bukan penyalur dari pihaknya. "Dia hanya mengaku bekerja atas nama PT Mangga Dua. Ketika penggerebekan dia tidak bisa menunjukkan izin," ujar Juliana.

Lebih jauh dia menyebutkan penyaluran pekerja migran secara legal harus memiliki job order dari negara yang meminta. Kemudian, calon TKI itu harus memiliki identitas yang terdaftar di pemerintah setempat sesuai domisili mereka.

"Selain itu, calon TKI juga harus mengantongi paspor bekerja. Tetapi yang terjadi ini dalam perkara ini Asep menggunakan paspor kunjungan," katanya ketika menjawab pertanyaan hakim.

Sementara Brigadir Andre penyidik Subdit IV Renakta yang ikut dalam penggerebekan menjelaskan awalnya pihaknya mendapatkan informasi mengenai akan adanya keberangkatan 8 calon TKI yang diduga ilegal hendak ke Malaysia.

Polisi kemudian menggrebek dan menangkap Asep di sebuah penginapan di Jalan Pangeran Antasari, Sukarame pada Rabu (28/2) lalu. "Kami temukan delapan pekerja itu ditempatkan di dua kamar di penginapan. Dari interograsi yang kami lakukan kedelapan calon TKI itu hendak di pekerjakan di sebuah restoran di Kuala Lumpur, Malaysia," katanya.

"Waktu kami grebek para calon TKI itu tidur dengan kondisi yang tidak layak selama satu bulan di penampungan itu," katanya.

Sementara dari hasil keterangan mereka, penyidik mengungkap para calon TKI itu menyetor uang beragam dari Rp3 juta hingga terbesar Rp15 juta ke Asep.

Keterangan Brigadir Andre tersebut dibantah oleh Asep, ia mengaku uang yang diserahkan dari calon TKI itu untuk biaya operasional selama ditempatkan di penginapan yang dijadikan penampungan. (*)


Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.