Halloween party ideas 2015



SUKADANA, JNNews -- Dengan adanya berita yang beredar dimedia online terkait dugaan eksploitasi anak di bawah umur, yang membawa nama LPAI seolah tutup mata, ketua LPAI Kabupaten Lampung Timur angkat bicara, Jum'at (13/7).

Menurut Rini Mulyati, pihak LPAI bukan menutup mata dengan adanya kasus eksploitasi yang diberitakan oleh salah satu media yang ada di Kabupaten Lampung Timur. “Pada saat acara tersebut berlangsung saya dan pihak LPAI tidak ada yg berada di lokasi kejadian. Sehingga adanya kejadian ini tentu kami sesalkan, sebenarnya ini tugas semua pihak, bukan hanya LPAI. Karena di Lampung Timur ada yang namanya forum diskusi Kabupaten Layak Anak, untuk langkah selanjutnya LPAI akan meminta penjelasan panitia festival gua pandan kenapa menerapkan konsep seperti ini," pungkas Rini.

Pada pemberitaan media sebelumnya, sungguh jauh api dari pada panggang apa yang dilakukan Bupati Lampung Timur yang gencar dengan melakukan desa ramah anak di Kabupaten Lampung Timur yang berjuluk Bumei Tuwah Bepadan, hal ini terbukti dengan adanya dugaan peng'eksploitasi anak di bawah umur yang terjadi.

Eksploitasi anak ini hampir sama dengan kejadian eksploitasi anak yang terjadi di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, dengan cara mendandani anak dibawah umur seperti mahkluk kecil dalam film atau sinetron "tuyul" dan hal ini juga terjadi di Lampung Timur yang dilakukan pada saat pembukaan acara Festival gua pandan beberapa hari lalu, sedangkan pada saat itu Bupati Lampung Timur Chuanunia Chalim, selaku penggagas Desa Ramah anak di Lampung Timur dan juga sekaligus sebagai wakil Gubernur Lampung terpilih pada 27 Juni 2018 lalu, diarak oleh dua bocah yang didandani seperti "tuyul".

Kasus eksploitasi terhadap anak-anak oleh Bupati Lampung Timur Chusnunia chalim terjadi dalam sebuah acara Festival Gua Pandan, terlihat pemandangan atau keadaan yang menurut sifat anak-anak belum layak dilihat. Seperti mendandani anak-anak bagaikan "tuyul",yang dilumuri lumpur di sekujur tubuhnya dan diarak mengelilingi lokasi kegiatan tanpa alas kaki,serta membuat kegiatan yang mengikut sertakan anak-anak kecil dari waktu pagi sampai sore hari demi untuk memeriahkan acara tanpa melihat kondisi fisik mereka,tentunya hal ini tidak sesuai dilakukan di Lampung Timur karena saat ini Kabupaten Lampung timur sedang gembar-gembor mewujudkan Lampung timur sebagai Kabupaten Ramah anak.

Meski diklaim bahwa itu merupakan wujud budaya dari manusia, tetapi menurut salah satu warga Lampung Timur hendra  mengatakan bahwa,ini bukan budaya tapi sebuah penghinaan dan pelecehan terhadap manusia.

"Menurut saya ini budaya yang salah,berbudaya itu tidak merendahkan martabat dan kedudukan manusia. Bukan diberlakukan seperti tuyul. Ini penghinaan terhadap manusia dan pelecehan terhadap mahluk ciptaan Tuhan yang maha Esa sebagai mahluk yang paling sempurna,” jelasnya.

Hendra juga menyayangkan dengan kejadian tersebut,karena tidak adanya respon dari pihak panitia penyelanggara dan dinas Pariwisata Lampung Timur serta lembaga yang memperjuangkan hak,dan melindungi anak-anak,padahal di Lampung Timur banyak lembaga yang menaungi serta menjaga hak-hak anak seperti AKRAP, LPAI dan lainnya mereka seakan tutup mata atas kejadian tersebut.pungkas Hendra.

Sementara itu terkait adanya eksploitasi anak di Lampung Timur, salah satu wartawan media yang ada dilamtim mencoba untuk meminta tanggapan dari Kepala Dinas Pariwisata Lampung Timur, namun saat di hubungi via telp nya tidak aktif, sedangkan ketua LPAI Lampung Timur, saat dihubungi  via WA pribadinya, Rini Mulyati menjawab.

"Nah ini yg belum kami ketahui unsurnya. Namun secepatnya kami akan observasi dan meminta penjelasan dr dinas terkait dan panitia pelaksana festival tersebut," ujarnya. (apri)



Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.