Halloween party ideas 2015



JAKARTA -- Institute for Development of Economic and Finance (Indef) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi di kuartal II-2018 akan sulit terulang. Bahkan untuk kuartal III di tahun ini pertumbuhan ekonomi ditaksir kembali menurun dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati menilai mesin pendorong ekonomi Indonesia sudah habis terpakai di kuartal II tahun ini. Misalnya saja periode puasa dan Lebaran yang menjadi faktor musiman untuk mendorong perekonomian sudah terlewati sehingga stimulus di kuartal selanjutnya terbatas.

"Kalau energi ini sudah habis jadi bagaimana kita bisa optimistis. Tapi mudah-mudahan di kuartal III itu cukup tersedia alternatif untuk bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi," kata Eni, dalam sebuah konferensi pers, di Kantor Indef, Jakarta Selatan, Rabu (8/8).

Dirinya menambahkan stimulus fiskal yang minim menyentuh sisi produksi karena lebih berdampak pada sisi konsumsi dan membuat pertumbuhan ekonomi diragukan tumbuh lebih tinggi lagi. Apalagi produksi yang meningkat di kuartal II ternyata tak seluruhnya diserap karena pertumbuhan inventori yang meningkat.

"Ini membuat efek pengganda yang dihasilkan tidak optimal. Pertumbuhan ekonomi meningkat, namun sektor riil sebagai penopang utama penyerapan tenaga kerja tidak menggeliat," jelas dia.

Menurut dia, pemerintah perlu berupaya keras dalam mendorong pertumbuhan dengan investasi serta ekspor. Apalagi di tengah depresiasi rupiah, kinerja ekspor seharusnya bisa meningkat karena biaya produksi lebih murah dibandingkan pendapatannya.

"Tanpa itu saya yakin akan kembali seperti di kuartal IV-2017 kalau enggak ada tenaga baru. Ini makanya relativitas fiskal policy termasuk bagaimana memanfaatkan depresiasi rupiah untuk mendorong ekspor itu dibutuhkan kedepannya," ujarnya. (*)


Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.