Halloween party ideas 2015



BANDAR LAMPUNG -- Kebijakan menaikkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) pasal 22 yang mengendalikan 1.147 pos komoditas impor disinyalir belum berdampak pada penurunan jumlah impor ke Lampung. Pasalnya, cara untuk pembatasan perdagangan dari luar negeri itu kini justru membuat barang luar negeri semakin banjir di Bumi Ruwa Jurai.

Terlebih, pasca diterapkan aturan tersebut nilai impor Lampung justru meningkat signifikan sebesar 11,17 persen atau 26 juta dolar AS dibandingkan Juli lalu dari 239 juta dolar AS dan mencapai rekor tertinggi ditahun 2018 ini senilai 266 juta dolar AS.

Kepala Seksi Statistik Niaga dan Jasa, Nasrullah Arsyad mengatakan ekspor-impor Agustus ini dinilai mengecewakan. Sebab, ditengah depresiasi rupiah yang semakin melemah sepatutnya terdapat kebijaka pemerintah dan institusi keuangan untuk memacu ekspor semakin bergeliat guna menambah cadangan devisi negara.

"Namun, kinerja ekspor Lampung yang diharapkan ada kenaikan tetapi justru menurun. Padahal, beberapa bulan ini sudah naik bahkan sudah sampai 359 juta dolar AS dan diharapkan bisa terus berlanjut. Bahkan, sebaliknya impor yang ingin diturunkan malah naik pesat. Banyaknya impor itu berarti semakin menyedot devisa," ujarnya.

Bahkan, adanya kebijakan kenaikan tarif PPh impor masih belum pengaruhnya. Sebab, kondisi itu tidak dimanfaatkan eksportir untuk memperbanyak pengiriman barang dan sebaliknya justru pelaku bisnis yang memanfaatkan momentum itu untuk memperbanyak impor barang.

"Seharusnya menaikkan tarif pajak impor itu sudah terlihat, tetapi kenyataannya belum terlihat. Bahkan, pengusaha yang mengimpor semakin kencang. Boro-boro pelaku ekspornya yang kelihatan memanfaatkan situasi, justru malah pelaku impor sendiri yang memanfaatkannya," tuturnya. (*)


Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.