Halloween party ideas 2015



JAKARTA --  Angka kemiskinan yang pada 2009 sebanyak 32 juta jiwa atau 13,32 persen, kini dinilai semakin menurun, yaitu 9,82 persen atau 25 juta jiwa. Penurunan angka kemiskinan dikarenakan ada upaya penangan secara tepat oleh sejumlah dinas sosial dan lembaga keagaman, salah satunya seperti Nahdlatul Ulama (NU).

Demikian kesimpulan diskusi yang digelar Pemuda Pemudi Pemerhati Umat di Pesantren Mahmudah, Bandar Lampung, Lampung, Minggu (28/10/2018). 

Diskusi yang mengambil tema "Optimisme pada Persentase Penurunan Angka Kemiskinan  Nasional" itu menghadirkan Dinas Sosial Provinsi Lampung, Badan Pusat Statistik (BPS), dan PCNU Lampung. 

Kabid Humas BPS Lampung, Mas'ud Rivai, mengatakan, konsep kemiskinan memang berbeda-beda. Bahkan, menurutnya, di masa lalu mengategorikan orang yang tidak beribadah termasuk kategori miskin.

Namun saat ini, lanjut dia, kemiskinan hanya berdasarkan kategori yang dikeluarkan oleh BPS, yaitu masyarakat yang pendapatannya dibawah Rp400 ribu per bulan.

Dia menjelaskan, setiap tahunnya BPS menyurvei 300 ribu responden rumah tangga. Hal itu sebagi upaya pemerintah untuk mendapatkan data terbaru terkait kemiskinan.  "Tahun 2009, angka kemiskinan 32 juta jiwa atau 13.32 persen secara nasional. Sementara sekarang, per maret 2018 hanya 9,82 persen atau sekitar 25 juta jiwa. Ini merupakan prestasi karena belum pernah kita di bawah 10 persen," ujarnya. 

Sementara, Kepala Dinas Sosial Provinsi Lampung, Sumarju Saeni, mengungkapkan, masyarakat miskin yang ditangani pihaknya di antaranya adalah lansia, mantan narapidana, dan kaum disabilitas.

Menurut dia, makna miskin dalam hal ini berarti mereka membutuhkan dalam hal sandang, papan, pangan. Beberapa programnya, lanjut dia, di antaranya yaitu Program Keluarga Harapan (PKH), Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yaitu KIS, KIP, maupun beras Rasta. "Target Dinsos Lampung
adalah minimal satu orang dari setiap Kecamatan yang ada KPM-nya, bisa kuliah di negeri," ungkap dia.

Dalam kesempatan itu, Sekretaris PCNU Kota Bandar Lampung, Habibul, juga turut menyampaikan pandangannya. Menurut dia, orang miskin itu juga memiliki penghasilan, namun tidak menentu.

Habibul menilau, solusi kemiskinan yang paling utama dari NU adalah usaha dan doa. Usaha tanpa doa, menurutnya, adalah sebuah kesombongan, sementara doa tanpa usaha, adalah naif.

Terkait usaha ini, Habibul menegaskan bahwa anak-anak di Pesantren Mahmudah memiliki kemandirian dalam upaya peningkatan kesejahteraannya masing-masing. "Target Kita tahun ajaran baru sudah berdiri koperasi, untuk meningkatkan perekonomian santri," paparnya. (*/rls) 


Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.