Halloween party ideas 2015



BANDAR LAMPUNG -- Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung naik sebesar 0,40% pada September 2018 ini. Komoditas subsektor tanaman pangan, seperti padi dan palawija menjadi hasil pertanian penyumbang terbesar kenaikan itu selain perkebunan, dan perikanan budidaya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, Yeane Irmaningrum menjelaskan beberapa subsektor pertanian tanaman padi dan palawijaya naik 1,71%, hasil perkebunan rakyat naik 0,99%, dan perikanan budidaya sebesar 0,21%.

Namun, NTP pada tanaman holtikultura mengalami penurunan hingga 0,73%, peternakan sebesar 1,47%, perikanan turun 0,08%. "Secara keseluruhan, komoditas subsekstor itu membuat NTP Lampung naik 0,40% dari 105,40 pada Agustus menjadi 105,82 di September ini," kata Yeane dikantor BPS, Senin (1/10).

Menurutnya, kenaikan NTP pangan itu, karena adanya peningkatan indeks yang diterima (it) sebesar 0,95% dan penurunan pada indeks yang dibayar (ib) sebesar 0,75%. Hal itu berbanding lurus dengan rata-rata harga gabah Kering Panen (GKP) ditingkat petani yang naik 2,99% dari Rp4.796 per kg menjadi Rp4.940 per kg.

"Harga gabah tertinggi di petani mencaai Rp5.400 per kg pada kualitas GKP, sedangkan harga gabah terendah mencapai Rp4.600 per kg. Tapi, harga itu berada diatas Harga Pembelian Pemerintah (HPP), yaitu Rp3.700 per kg," ujarnya.

Ditingkat penggilingan, harga gabah tertinggi Rp5.450 per kg pada gabah kualitas GKP, sedangkan harga terendahnya sebesar Rp4.680 per kg. "Dengan kelompok kualitas yang sama, harga ganah ditingkat penggilingan ini naik sebesar 2,56% dari Rp4.889 per kg menjadi Rp5.014 per kg," tuturnya. (*)


Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.