Halloween party ideas 2015



JAKARTA -- Pengamat Energi Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan bahwa adanya pembengkakan dalam anggaran subsidi BBM dan LPG terjadi karena deviasi di dua variabel, yaitu nilai tukar rupiah dan harga minyak.

Hal itu disampaikannya saat menanggapi realisasi subsidi BBM dan LPG hingga akhir September 2018 yang membengkak menjadi Rp54,3 triliun dari pagu anggaran dalam APBN 2018 sebesar Rp46,9 triliun.

"Ya memang kemungkinan realisasinya pasti akan melebihi yang dianggarkan karena kan terjadi deviasi di dua variabel utamanya, nilai tukar Rupiah yang melemah dan harga minyak yang meningkat," katanya, Rabu (17/10).

Berdasarkan simulasi Reforminer, kata Agung, menemukan bahwa tambahan subsidi BBM (solar dan minyak tanah) dari setiap kenaikan harga minyak sebesar USD 1 per barel adalah sekitar Rp3,11 triliun. Sementara, sambungnya, jika nilai tukar Rupiah melemah sebesar Rp100 per dolar AS, kebutuhan anggaran subsidi BBM pun akan meningkat sekitar Rp1,51 triliun.

Jika pada kondisi tertentu, lanjut dia, secara bersamaan harga minyak meningkat sebesar USD 1 per barel dan nilai tukar Rupiah melemah Rp100 per dolar AS, kebutuhan anggaran subsidi energi dari BBM saja akan meningkat sekitar Rp4,63 triliun.

"Kebutuhan anggaran subsidi energi akan lebih besar lagi jika memperhitungkan tambahan alokasi anggaran untuk subsidi LPG 3 kg dan subsidi listrik," katanya.

Subsidi energi dalam RAPBN 2019 mengalami peningkatan menjadi Rp 164,1 triliun dengan asumsi nilai tukar Rupiah Rp15.000 per dolar AS. Saat ditanyakan apakah dengan anggaran subsidi tersebut pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM jenis Premium hingga tahun depan, Agung memprediksi pemerintah tidak akan menaikkan harga Premium jika harga minyak mentah masih di bawah USD 100 per barel.

"Kalau harga minyak masih di bawah 100, prediksi saya sampai dengan Pilpres pemerintah tetap tidak akan menaikkan harga Premium," jelasnya. (*)


Post a Comment

Powered by Blogger.