Halloween party ideas 2015



JAKARTA -- Indonesia dinobatkan sebagai negara paling dermawan melalui World Giving Index yang dirilis Charity Aid Foundation (CAF) dengan menempati peringkat pertama.

Indonesia mendapat skor rata-rata tertinggi yaitu 59% dari tiga indikator, yakni menolong orang asing sebesar 46%, donasi uang sebesar 78%, dan aktif dalam kegiatan kerelawanan 53%. Menyusul di peringkat kedua dan ketiga ada Australia dengan skor 59% dan Selandia Baru 58%.

Menurut Menteri/Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro, Indonesia menjadi negara paling dermawan dengan menempati urutan pertama karena faktor kultur masyarakat yang senang berbagi dan menolong orang lain.

"Masyarakat kita sangat filantropis. Hal ini perlu didorong terus agar sikap filantropi dan kedermawanan terus ada," kata Bambang dalam sambutannya di pembukaan Festival Filantropi Indonesia 2018 di Jakarta Convention Center, Kamis (15/11).

Bambang juga menilai raihan posisi pertama tidak terlepas dari faktor jumlah warga muslim yang sangat besar ada di Indonesia. Itu menjadi faktor mendasar untuk menjadi negara yang filantropi karena muslim diwajibkan memiliki sikap tersebut melalui kewajiban berzakat.

Menurut Bambang jumlah zakat, infak, dan sedekah (zis) di Indonesia pun setiap tahun meningkat hingga 38%. Dari peningkatan ini, Bambang menyimpulkan bahwa masyarakat telah menyadari pentingnya dana sosial untuk menyejahterakan. Pun dapat diartikan ekonomi masyarakat semakin membaik sehingga kemauan dan kesadaran untuk beramal semakin tinggi.

"Artinya ekonomi masyarakat juga membaik meski memang tidak ada indikator tetap untuk bisa berzakat asal mampu. Tetapi kemudian peningkatan ini menjadi tanda minimal kesejahteraan masyarakat meningkat, sehingga kesadaran untuk melakukan filantropi juga meningkat," terangnya.

Posisi pertama yang diraih Indonesia juga mematahkan mitos bahwa untuk beramal harus kaya. Sebab, dari segi pendapatan per kapita, Indonesia masih di bawah Australia serta Selandia Baru.

Hal ini juga dibuktikan dari peringkat kedelapan serta kesembilan WGI yang ditempati oleh Kenya dan Myanmar dengan pendapatan per kapita di bawah Indonesia. Kedua negara tersebut bisa masuk sepuluh besar negara paling dermawan, menurut Bambang, karena didasari besarnya keinginan masyarakat untuk berbagi dan menolong orang lain.

Besarnya rasa filantropi Indonesia juga berasal dari generasi muda atau generasi milenial. Generasi milenial tidak hanya identik dengan teknologi untuk mengembangkan ekonomi digital tetapi juga mampu mengembangkan usaha sosial untuk menolong orang di sekitarnya.

"Saya sangat mengapresiasi dengan tumbuhnya aksi sosial dari para generasi milenial melalui usaha sosialnya. Kini kita bisa lihat bahwa filantropi bukan monopoli orang tua yang kaya," pungkasnya. (*)


Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.