Halloween party ideas 2015


Bandar Lampung -- Dalam persidangan dugaan 'jual beli kursi' mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Universitas Lampung (FK-Unila) terungkap fakta baru.

Terdakwa Widya dihadapan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Tanjung Karang mengaku hanya sebagai korban dan menyebutkan keterlibatan nama lain terduga penerima uang 'mahar' senilai Rp 350 juta, Kamis, (11/08/2018).

Pada sidang untuk mendengarkan keterangan saksi dari terdakwa, Widya menyebut jika dirinya hanyalah sebagai perantara yang dimintai pertolongan oleh pihak perwakilan dari calon mahasiswa  bernama Yollanda Natalia Sagala yakni saudara Fran yang selanjutnya sejumlah uang terkumpul diserahkan kepada oknum pegawai Pusat Komputer (Puskom) Unila bernama Nilamto.

"Ya benar saya mulanya dimintai tolong oleh saudara Fran, itu juga bedasarkan kesanggupan saudara Nilamto yang menjanjikan, tapi karena merasa terbawa maka saya beritikad baik mengembalikan uang tersebut meski belum sepenuhnya, karena uang itu ada pada Nilamto," kata Widya dihadapan majelis hakim pimpinan Hakim ketua, Samsuddin, Kamis (11/08/2018).

Penasehat Hukum Widya, Yudi Yusnandi menjelaskan, kliennya hanyalah korban perantara, karena uang tersebut diberikan kepada Nilamto yang disebut-sebut sebagai orang yang sanggup meluluskan Yollanda Natalia Sagala di Fakultas Kedokteran Unila.

"Harus ada pelaku utama, agar bisa dikaitkan secara bersama, sekarang ini kan terkesan dipaksakan, dan di pengadilan terbukti terdakwa tidak sendirian," katanya usai sidang.

Ia juga menmmenamba, klienya sangat kooperatif dan menghormati persidangan, bahkan klienya berani mengakui dan mengungkap beberapa fakta lain dihadapan hakim, kendati terdakwa kini seakan menjadi tersangka tunggal dalam kasus ini, padahal ada pelaku yang seharusnya paling bertanggungjawab.

"Klien kami cukup kooperatif, beliau beritikad baik untuk mengembalikan uang walau belum sepenuhnya, padahal ia tidak menikmati hasil (uang suap) yang semua itu diserahkan pada Nilamto," terangnya.

Yudi tak menampik kliennya Widya memang terlibat, tetapi itu merupakan unsur turut serta sehingga pihaknya menganggap dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) belum lengkap, karena masih prematur kurang pihak, didalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Polisi juga hanya memasukan Widya terlapor seorang, sehingga ia pun meminta rekomedasi majelis hakim, atau pun Jaksa agar memeriksa keterlibatan terduga yang lain.

"Klien kami memang berperan dan terlibat, tetapi itu merupakan unsur turut serta, seharusnya tersangka Nilamto bisa dijadikan tersangka utama karna pelaku mempertemukan keduanya," tukasnya.

Diketahui, sebelumnya dalam dakwaan JPU Rita Susanti bahwa perbuatan tersebut berawal pada bulan Mei 2017 lalu.

Terdakwa yang berstatus sebagai Dosen Fakultas Hukum di Kampus Unila di minta memasukan mahasiswi baru dengan sejumlah uang.

Saat itu teman yang pernah dikenal Widya dan bekerja di sebuah Leasing (perusahaan pembiayaan) bernama Francis Simanulang meminta bantuan, meski wiWid mengaku tidak bisa tapi mereka tetap mempercayakan pada wWidy dan widWi kemudian mempertemukan dengan Nilamto hingga kesepakatan terjadi.

Sehingga singkat cerita Yollanda Natalia Sagala tidak diterima kerena nilainya rendah, lalu pihak keluarga mempertanyakan dan meminta uang dikembalikan, kemudian merasa bertanggungjawab terdakwa pun telah mengambalikan uang lebih dari separuh yang notabene uang itu di bawa Nilamto yang hingga kini tak berkabar. (*/jn)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.