Halloween party ideas 2015

Mbak Tutut. (foto: net)

PONOROGO, JNNews -- Tokoh wanita kharismatik, Siti Hardiyanti Rukmana mengatakan, golput atau tidak memilih dalam pemilihan umum (Pemilu) 17 April 2019 adalah perbuatan tidak bertanggung jawab.

"Jangan golput ya,  gunakan hak pilih bapak dan ibu," ujar putri almarhum Presiden Soeharto yang akrab dipanggil Mbak Tutut dalam Pengajian di Masjid Al Manar, Ponorogo, Jawa Timur, Ahad Pagi, 31 Maret 2019.

Berbicara di depan masjid yang dibangun Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila yang dipimpin Pak Harto, Mbak Tutut mengingatkan tidak memilih akan membuka kesempatan orang lain mempermainkan suara kita. Hal itu, lanjutnya, tidak boleh terjadi. Oleh karena itu, Mbak Tutut mengimbau masyarakat mendatangi TPS dan menggunakan hak suara

Bukan kali pertama Mbak Tutut mengingatkan masyarakat agar tidak golput. Di setiap tempat yang dikunjungi dalam perjalanan ke sejumlah kota di Jawa Timur, Mbak Tutut selalu mengimbau agar warga tidak golput.

"Kita memilih pemimpin yang menentukan arah pembangunan Indonesia lima tahun ke depan, jadi setiap warga negara harus berpartisipasi," kata Mbak Tutut, yang datang bersama Siti Hutami Endang Adiningsih alias Mbak Mamiek.

Selain itu, Mbak Tutut juga meminta di hadapan sekitar 1.500 peserta pengajian untuk menjaga kesetiakawanan sosial. Sebab pemilu kali ini akan diwarnai dengan berbagai intrik.

"Semua pihak harus selalu sadar bahwa keutuhan dan persatuan bangsa di atas segalanya," Tegas Mbak Tutut

Masjid Al Manar terletak di dalam komplek Universitas Muhamadiyah Ponorogo. Masjid ini adalah satu dari 999 masjid yang dibangun Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila pimpinan Pak Harto.

Pada Pengajian Ahad 31 Maret 2019, peserta tidak hanya dari kalangan mahasiswa tapi juga warga Ponorogo. Mereka hadir di halaman masjid sejak usai shalat subuh. Tidak hanya warga Muhammadiyah, tapi juga NU.

Sebelumnya, masih pada pengajian Ahad Pagi di Masjid Al Manar, Ustad Haikal Hasan membangkitkan ingatan masyarakat akan era Pak Harto. Ia menyebut sejumlah program dan kebijakan Pak Harto yang monumental dan membuat sosoknya dirindukan.

"Bapak-bapak dan ibu-ibu mungkin masih ingat dengan swasembada beras, ketahanan pangan, gotong royong dan masih banyak lagi," kata Ustad Haikal Hasan, yang disambut teriakan kata "ingaaatttt..." oleh seluruh peserta pengajian.

Haikal Hasan juga mengingatkan kepada para peserta pengajian saat jilbab dilarang di sekolah-sekolah, semua orang Islam menyalahkan Pak Harto atas situasi itu.

"Kita saksikan Mbak Tutut tampil ke hadapan publik dengan jilbab, bagaimana mungkin Pak Harto disalahkan atas situasi pro dan kontra jilbab," ujar Haikal Hasan. (*)

Titiek Soeharto bersama Prabowo Subianto.
(foto: net)
YOGYAKARTA, JNNews -- Siti Hediati Hariyadi atau Mbak Titiek yakin akan tulus dan tingginya komitmen capres Prabowo Subianto dalam membangun bangsa dan menyejahterakan masyarakat. Titiek mengaku telah melihat dan membuktikan hal itu sejak lama.

Titiek Soeharto menyatakan hal tersebut sebagai jawaban atas pertanyaan wartawan yang meminta tanggapannya tentang debat calon pesiden yang digelar KPU di Jakarta, Sabtu, (30/3) malam.

Ditemui di sela kegiatan Peringatan Bulan Pak Harto, di Dusun Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Minggu pagi 31 Maret 2019, putri kedua Presiden Soeharto itu mengaku senang dengan hasil debat semalam.

Menurut Titiek,  Capres Nomor Urut 02, Prabowo Subianto menunjukkan karakter diri yang sesungguhnya dalam debat tersebut.

“Pak Prabowo menunjukkan karakter beliau yang sesungguhnya, tanpa harus menjatuhkan atau menyindir Pak Jokowi. Jelas dan gamblang, beliau memiliki komitmen besar untuk membangun bangsa ini ke depan,” kata Titiek.

Pascadebat itu Titiek Soeharto mengaku optimistis elektabilitas Prabowo-Sandi akan terus naik dan mampu memenangkan kontestasi pemilihan Capres-Cawapres 2019 nanti. Hal itu juga tak lepas dari tingginya antusiasme masyarakat setiap menyambut kedatangan Prabowo-Sandi, saat berkunjung ke daerah-daerah.

“Insyaallah, kita harus optimistis. Apalagi melihat sambutan-sambutan yang diterima Pak Prabowo setiap pergi ke daerah, warga selalu datang  menyemut,” kata dia.

Hal tersebut, menurut Titiek  membuat para pendukung, baik Badan Pemenangan Nasional maupun para relawan semakin bersemangat untuk menggalang dukungan dan memenangkan Prabowo-Sandi.

“Bukan jumawa atau sombong, tapi kami mendapat dukungan yang begitu besar. Sehingga kami lebih semangat untuk memenangkan pemilu ini,” kata Titiek.

Setelah menghadiri acara Debat Presiden, Sabtu malam, Titiek Soeharto langsung terbang ke Yogyakarta untuk menghadiri acara Peringatan Bulan Pak Harto di Memorial HM Soeharto, di Kemusuk Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, Minggu pagi.

Padahal, sebelumnya pada Sabtu siang, Titiek Soeharto masih berada di Yogyakarta, untuk menghadiri acara Yayasan Damandiri di Desa Trirenggo, Bantul.

“Ya, memang harus bolak-balik Jakarta-Jogja. Tapi, gak apa, senang. Dijalanin, karena bersama-sama masyarakat," tutup Titiek, (*)


LAMPUNG TENGAH, JNNews -- Seorang siswi jurusan Tata Busana SMK Negeri 3 Terbanggi Besar, Lampung Tengah (Lamteng) bernama Fitri dikabarkan tidak ikut Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di hari pertama, Senin (25/3/2019).

Penjelasan Kepala Sekolah (Kepsek), Nurhasanah saat dimintai penjelasan, membentah pemberitaan media yang telah menyiarkan peristiwa tersebut.

"Itu berita tdk benar mas, dan sdh di selesaikan langsung dg pak bupati, trimakasih atas perhatianya," ujarnya dalam pesan WhatsAppnya, Sabtu (30/03/2019).

Nurhasanah menegaskan, hal tersebut menjadi perhatian Bupati Lamteng untuk ikut menyelesaikan persoalan yang sempat menjadi konsumsi publik melalui pemberitaan.

"Pak bupati sdh turun langsung ke smk n 3 dan sdh mendpt penjelasan kami, bhw itu tdk benar," tegas Kepsek.

Saat ditanya adanya video pengakuan Fitri di pos satpam sekolah, Nurkhsanah kembali membantahnya, bahwa tidak benar, menurutnya siswinya ikut UN pada hari terakhir

"Kan sy sdh ktakan itu tdk benar, siswinya ikut UN hg hr trahir,"

Sebelumnya beredar kabar
Pengakuan Fitri, yang tidak diperbolehkan mengikuti UNBK oleh pihak sekolah lantaran belum membayar uang komite.

"Saya tidak ikut ujian karena tidak ada nomor. Yang ikut ujian yang sudah lunas uang komite dan diberikan nomor ujian. Nomor itu nanti yang dimasukkan kedalam komputer sebagai password," kata Fitri.

Fitri sudah mencoba menemui salah satu guru yang memegang nomor ujian dan menceritakan belum bisa bayar uang komite, namun pihak sekolah tetap tidak memberi nomor ujian dengan alasan belum melunasi biaya komite sebesar Rp 4. 7 juta. (jn)

Titiek Soeharto. (foto: smsi)
YOGYAKARTA, JNNews -- Keinginan kuat dari masyarakat untuk perubahan tak lagi dapat dibendung. Hal itulah yang menyebabkan calon presiden Prabowo Subianto selalu disambut dengan meriah, dan masyarakat dalam jumlah puluhan ribu pun tumpah ruah, bersedia berjejal-jejal untuk mengelu-elukannya.

Pernyataan itu disampaikan Siti Hediati Hariyadi, atau akrab disapa Titiek Soeharto, saat ditanya wartawan usai memberikan sambutan dan melakukan peletakan batu pertama dibangunnya Pasar Desa Modern di Desa Trirengo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu 30 Maret 2019.  Pasar tersebut dibangun sebagai bantuan Yayasan Dana Sejahtera Mandiri atau Damandiri, dimana Mbak Titiek menjadi salah seorang pembinanya. Dengan bantuan Yayasan Damandiri pula, Desa Trirenggo sudah lama mengentas sebagai desa mandiri lestari.

Menurut Titiek, sambutan meriah terhadap Prabowo di setiap daerah yang dikunjunginya itu sangat jelas merupakan spontanitas masyarakat.

“Semoga saja semua itu turut memberikan dorongan semangat yang besar buat kita memenangkan Pemilu ini, bukan untuk kepentingan Pak Prabowo atau Pak Sandi, melainkan kepentingan bangsa Indonesia ke depan," Kata Mbak Titiek

Titiek juga meyakini, sambutan meriah dari rakyat itu juga mencerminkan bahwa rakyat sudah sangat rindu dengan pemimpin amanah dan kapabel. Pemimpin yang punya kemampuan untuk melakukan perbaikan bagi Indonesia ke depan, yakni yang bisa membangun bangsa, segera mengentaskan kemiskinan dan memerangi kebodohan agar Indonesia bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

“Karena itu, pemilih harus memilih pemimpin yang pas dengan hati nurani Bapak Ibu semua,” kata Titiek sembari menekankan bunyi pada kata ‘pas’ yang ia katakan.

Dengan tekad untuk maju itu pula, kata Titiek, pihaknya terus mengembangkan desa Trirenggo, dengan membangun pasar modern setelah desa itu tergolong menjadi desa mandiri-lestari. Ia berharap, hal itu bisa memberikan lapangan kerja dan menghidupkan ekonomi masyarakat sekitar.

Desa Trirenggo merupakan desa binaan Yayasan Damandiri yang telah mengentas menjadi desa mandiri lestari. Menurut Kepala Desa Trirenggo, Munawar, dengan bantuan intensif yang dilakukan Damandiri, desa itu berhasil mengurangi jumlah keluarga miskin.

“Dari 1700 kepala keluarga (KK) yang tergolong miskin di akhir November 2016, jumlah keluarga miskin kini tinggal 837 KK saja,” kata Munawar.

Tak hanya menggerakkan perekonomian masyarakat dengan pendampingan perkonomian dan memberikan akses modal, Damandiri pun kerap memberikan sumbangan social. Dalam kesempatan itu pun, Ketua Yayasan Damandiri Soebiyakto Cakrawerdaya menyatakan pihaknya membantu masyarakat Trirenggo membangun 44 homestay, semenisasi lantai dan bedah rumah untuk 35 unit rumah, bantuan pembangunan jamban di 235 rumah, pemberian akses modal murah kepada para pedagang kecil dan sebagainya.

Untuk lebih meningkatkan kesejahteraan warganya, bekerja sama dengan Damandiri, kini Desa Trirenggo sudah menyiapkan tanah seluas 7 hektare untuk pembangunan desa wisata.

Tidak hanya dihadiri warga masyarakat setempat, peletakan batu pertama pembangunan pasar modern itu juga dihadiri warga empat desa lainnya yang juga mendapatkan bantuan dan pemdampingan Damandiri, antara lain untuk para anggota Koperasi Unit Desa (KUD) Desa Mandiri Lestari Krambilsawit di Kecamatan Saptosari, Gunung Kidul.

“Yayasan Damandiri merupakan yayasan yang didirikan Pak Harto untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini sejalan cita-cita Pak Harto yang selalu peduli dengan rakyatnya. Beliau ingin semua masyarakat terus meningkat kesejahteraannya,” Tutup Titiek. (*)

Mbak Tutut. (foto: smsi)

BLITAR, JNNews -- Siti Hardiyanti Rukmana, putri pertama almarhum Presiden Soeharto yang biasa disapa Mbak Tutut, mengunjungi Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Al Kamal, Blitar, Jawa Timur, Jumat, 29 Maret 2019.

Dalam kunjungannya, Putri sulung Presiden Kedua RI, Jenderal Besar HM Soeharto itu mengimbau agar para santri tahu politik agar tidak diarahkan oleh para oknum yang hanya akan merusak bangsa.

Dalam dialog yang juga diikuti Siti Hutami Endang Adiningsih atau Mbak Mamiek, Mbak Tutut juga mengatakan tahu politik akan membuat santri bisa membedakan mana hoaks atau bukan. Hoaks, masih menurut Mbak Tutut, membuat jalinan persaudaraan pudar.

"Tahu politik akan membuat santri tidak salah langkah, pesantren itu memiliki peran penting dalam pembangunan, apalagi di zaman globalisasi ini pesantren merupakan sarana pendidikan ilmu agama dan budi pekerti," Ujar Mbak Tutut saat berdialog dengan santri Pesantren Al Kamal di Blitar, Jumat, 30 Maret 2019 didampingi Mamiek Soeharto dan rombongan Partai Berkarya, kehadiran Mbak Tutut disambut antusias oleh ratusan santri.

Tokoh wanita kharismatik ini juga mengajak para santri berbuat kebaikan untuk kemajuan bangsa dan negara.

“Pesantren merupakan ujung tombak dari pendidikan di seluruh Indonesia, maka sangat penting penanaman agama dan perilaku sopan sejak dini," Kata Mbak Tutut

Dalam kesempatan itu, Mbak Tutut menyerahkan bantuan perangkat pembuatan biogas untuk Pesantren Al Kamal sebagai bagian program Pesantren Mandiri. Selain itu, buku tentang Pak Harto juga diberikan kepada pemilik Pesantren Al Kamal.

Sebaliknya, pengurus pesantren memberikan sebuah foto kenangan pemilik Pondok Pesantren Al Kamal bersama Pak Harto, kepada Mbak Tutut. Di penghujung acara, Mbak Tutut berswafoto dengan para santri. Suasana harmonis terlihat dalam kegiatan silaturahmi tersebut.

Mbak Tutut berharap, silaturahmi yang dijalin dapat terus berlanjut tidak hanya saat ini saja.

“Kami mohon silaturahmi ini terus berlanjut atas rida Allah SWT,” Tutupnya. (*)

Mbak Tutut. (foto: smsi)
JOMBANG, JNNews -- Tokoh wanita kharismatik, Siti Hediayati Rukmana biasa dipanggil Mbak Tutut, mengatakan pemilihan umum (Pemilu) untuk mencari pemimpin bukan cari musuh.

"Pemilu itu cari figur yang bisa memimpin, jadi nggak usah saling menjelekkan dan memaki," kata  Mbak Tutut di hadaan seribu relawan Partai Berkarya dari seluruh desa di Kabupaten Jombang dalam acara Silaturahmi dengan para Kyai dan santri di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jumat 29 Maret 2019.

Menurut Mbak Tutut, lihat program yang ditawarkan calon pemimpin. Sebab, katanya, yang diperlukan bangsa ini figur yang bisa memimpin.

Putri Presiden Soeharto itu juga mengatakan pemilu juga memilih wakil rakyat. Masyarakat juga harus melihat program partai yang ditawarkan para caleg.

"Partai Berkarya mengusung program membangkitkan lagi desa desa lewat pertanian terpadu dan mandiri," katanya yang disambut tepuk tangan relawan dan santri.

Partai Berkarya, lanjut Mbak Tutut, akan membimbing masyarakat desa menuju Mandiri pangan dan energi dan memberi bantuan peralatan. Sebab kehadiran Partai Berkarya untuk kembali melanjutkan perjuangan Pak Harto, menjadikan Indonesia sejahtera, adil dan makmur.

"Partai Berkarya tidak akan mengembalikan era Orde Baru. Partai Berkarya hanya ingin meneruskan perjuangan Pak Harto," Mbak Tutut menegaskan.

KH. Hasib Wahab Hasbullah, pengasuh Ponpes Bahrul Ulum, mengatakan di era Pak Harto harga harga stabil dan terjangkau serta pertanian maju.

"Kita merindukan Pak Harto. Jadi, tekad Keluarga Pak Harto melanjutkan perjuangan almarhum harus kita dukung, " katanya.

Ia juga mengingatkan santrinya bahwa Dusun Tambak Beras terbangun berkat Pak Harto. Namun perjuangan Pak Harto belum selesai, harus dilanjutkan dan didukung masyarakat.

Mbak Tutut, yang datang bersama Mamiek, meminta para kyai mendoakan agar Pemilu berlangsung aman, damai, dan Partai Berkarya mendapatkan empat persen suara. (*)

Titik Soeharto. (foto: net)
SOLO, JNNews -- Tanggung jawab dan beban moral Prabowo menjadikannya tersentuh untuk memimpin dan membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa besar di dunia. Hal itu karena kepemimpinan telah menjadi jiwa Prabowo sejak ia muda.

Hal itu dikatakan Siti Hediati Heriyadi, calon anggota legislative DPR RI dari Partai Berkarya, saat menggelar khitanan bersama (sunatan massal) di Dalem Kalitan, Kota Solo, Jumat, 29 Maret 2019. Pernyataan itu merupakan jawaban Titiek saat ditanya wartawan mengenai kesiapan Prabowo memimpin bangsa. 

Menurut putri kedua Presiden Soeharto yang akrab dipanggil Mbak Titiek itu, kondisi Indonesia yang tak kunjung membaik sejak reformasi telah menyentuh hati nurani Prabowo untuk benar-benar tulus mewakafkan jiwa, tenaga dan raganya buat bangsa Indonesia lepas dari keperpurukan.

“kepemimpinan itu dijalani sejak beliau masih muda, Pak Prabowo tahu betul apa yang harus dilakukannya bersama seluruh bangsa,  hati nuraninya terketuk untuk membawa bangsa ini menjadi bangsa besar, berdaulat dan bermartabat di mata dunia,” kata Titiek.   

Khitanan bersama yang digelar tersebut diikuti setidaknya 68 anak yang didaftarkan orang tua mereka secara online.

“Sampai pukul 10, sudah 62 anak yang datang,” kata seorang anggota panitia.

Menurut Koordinator Padi Medika, tim dokter yang menangani khitanan tersebut, dr Alfi Rizal, dengan sistem sirkumsisi laser yang mutakhir, ia menjamin pasien kembali bisa beraktivitas normal dalam tiga hari.

“Jadi, anak-anak ini Senin depan sudah bisa kembali bersekolah seperti biasa,” kata Alfi.

Dengan metode itu plus jahitan dengan benang yang bisa diserap oleh tubuh, kata dia, dalam waktu tiga hari sudah bisa sembuh dan tak perlu kontrol maupun ganti perban sendiri.

Hampir bisa dipastikan, setiap tahun putra-putri Pak Harto menggelar sunatan massal. Acara bisa digelar di berbagai kota. Misalnya pada 2015 lalu dilakukan di Monumen Memorial Jenderal Besar HM. Soeharto, di Dusun Kemusuk, Argomulyo, Bantul, Yogyakarta. Saat itu dikhitan 117 anak. Tahun lalu, di Masjid At-Tin juga dikhitan 205 anak. 

“Ini bentuk kepedulian keluarga kami, membantu masyarakat menjalankan perintah Rasulullah SAW,” kata Titiek.

Ia juga menegaskan bahwa kepedulian itu ditanamkan dan terus dipupuk Pak Harto kepada anak-anaknya.

“Bapak selalu menasihati kami untuk senantiasa peduli kepada rakyat kecil," ungkap Titiek

Malam sebelum acara digelar, Titiek dan sebagian panitia melakukan ziarah dan nyekar ke makam Pak Harto dan Ibu Tien di Astana Giribangun, di Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar. Komplek makam keluarga yang berdiri 660 meter di lereng Gunung Lawu, itu berjarak sekitar 35 km dari kota Solo.

Setelah membaca serangkaian doa dan surat Yassin, Titiek sempat beramah tamah dengan panitia. Keguyuban suasana membuat rombongan baru meninggalkan Astana Giribangun sekitar pukul 23.50 nyaris tengah malam.

Tahun lalu, acara dilakukan di Masjid At-Tin, Komplek Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Saat itu peserta mencapai 205 anak, melibatkan 11 anggota tim dokter dan 15 orang tim medis.

“Pesertanya berada pada rentang usia 3-10 tahun, dan saya menyaksikan animo masyarakat sangat luar biasa, hal itu dibuktikan dengan pendaftaran online yang kita buka selama seminggu dengan kuota 200 peserta pun terlampaui,” tutup Jahrudin selaku koordinator acara tersebut  kepada wartawan. (***)


Jakarta, JNNews -- Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo mendorong ikut sertanya tapis Lampung dalam ajang bergengsi Indonesia Fashion Week yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center, pada 27-31 Maret 2019.

Melalui ajang bergengsi tersebut Gubernur berharap industri kreatif Lampung terus tumbuh dan berkembang untuk meningkatkan pembangunan pariwisata Lampung.

“Ini merupakan industri dari ekonomi kreatif yang akan mendukung pengembangan pariwisata. Diharapkan dapat memotivasi berkembangnya ekonomi kreatif di Lampung," tutur Ridho.

Tapis Lampung sendiri, dalam acara itu dibawa langsung oleh Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Lampung Ibu Yustin Ridho Ficardo.

Dalam penampilan di ajang tersebut, Dekranasda Lampung bekerjasama dengan perancang kenamaan Defrico Audy. Tema yang diusung pada peragaan tersebut adalah “The Heritage of Tapis”.

Menurut Ibu Yustin, peragaan tersebut merupakan upaya terus menerus memperkenalkan tapis. “Peragaan ini untuk semakin memperkenalkan tapis di kancah nasional, kita ingin tapis semakin bisa dipakai di berbagai kesempatan, sehingga memberi kesan modern etnic," kata Yustin. Tampak hadir dalam acara itu para ibu bupati/walikota se-Provinsi Lampung.

Defrico Audy merupakan salah satu perancang yang sering mengangkat tema Sumatera. Menurutnya, rata-rata orang yang berasal dari Sumatera lebih menyukai warna yang ngejreng. Meski tidak semuanya. Dalam fashion week kali ini, Defrico menampilkan tapis dengan tema "modern ethnic".

Seperti diketahui, terselenggaranya acara ini telah direncanakan oleh Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI).
Tema yang diusung dalam gelaran yang sudah memasuki tahun ke 8 ini adalah “Cultural Values“. Ini konsisten dengan komitmen APPMI untuk terus mengembangkan dan mempromosikan kekayaan khasanah budaya Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi nasional.

Gelaran ini juga mempermudah promosi budaya dalam era ekonomi global yang makin tak terbatas, upaya untuk mengangkat warisan budaya nasional menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk pelaku industri fashion.

Event ini juga akan dimeriahkan oleh ratusan pelaku bisnis fashion dan perancang busana dari berbagai penjuru Nusantara. Pada ajang ini, ratusan merek fashion lokal juga akan dipamerkan. (ella/rls)


Bandar Lampung, JNNews -- Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Lampung Dra. Bayana, M.Si., tak dapat menyembunyikan rasa haru saat mengunjungi Shinta (28 tahun) wanita asal Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Abdul Moelok, Rabu (27/3/2019).
Kedatangan Bayana di RSUAM untuk memastikan penanganan Shinta dilakukan dengan baik. Sebab, sejak lima bulan lalu, wanita itu menderita tumor namun tidak bisa berobat dikarenakan tidak memiliki biaya. Terhitung tanggal 11 Maret 2019 Shinta dirawat di Rumah Sakit Sukadana Lampung Timur. Sebelum melakukan operasi pengangkatan tumor, Shinta bersama anaknya sementara tinggal diumah salah satu P2TP2A Lampung Timur Niluh Listriyani. Shinta kemudian dirujuk di RSUAM pada tanggal 25 Maret 2019.

Menurut Bayana, Shinta datang ke Lampung bersama anak perempuannya yang berusia 5 tahun untuk menemui suaminya di Kecamatan Marga Sekampung Lampung Timur yang meninggalkannya 5 tahun silam.

"Namun, suaminya ternyata telah memiliki istri. Sementara Shinta sendiri menderita sakit dan tak bisa kembali ke Lombok," tutur Bayana.

Bayana langsung "jemput bola" membantu Shinta setelah ada informasi dari Aktifis Perempuan dan Anak yang bertemu Shinta di Kantor Kepolisian Sektor Marga Sekampung Polres Lampung Timur.

Saat itu, Shinta dalam keadaan sakit sambil menggendong anaknya dan meminta kepada polisi agar dibantu bisa berobat dan pulang ke kampung halamannya di Lombok, NTB.

Sebagai bentuk kepedulian, Kadis PPPA ini mengunjungi dan memberikan bantuan secara langsung kepada Shinta, seperti dukungan psikis, mengingat Shinta merupakan seorang single parents yang ditinggal oleh suaminya.

Menurut Bayana, pihaknya juga memberikan dukungan moril serta motivasi kepada Sinta agar dirinya segera pulih. “Sinta harus semangat untuk sembuh, agar bisa berkumpul kembali dengan anak dan keluarga. Jangan berputus asa, juga tidak lupa untuk terus berdoa. Kami di sini akan terus memantau perkembangan Sinta,” ungkap Bayana, sambil menahan haru.

Tidak lupa kepada petugas yang merawat Shinta, Bayana juga berpesan agar mereka dapat memberikan perhatian dan pelayanan yang terbaik untuk Shinta.

Selain membantu biaya pengobatan Shinta selama di RSUAM, Dinas PPPA, UPTD P2TP2A Lampung juga akan berupaya untuk mengembalikan Sinta ke daerah asalnya di Lombok. (Rls)

Donny Kusuma. (foto: net)
JAKARTA, JNNews -- Lama tak muncul di layar televisi, artis Donny Kesuma kini bergabung dengan Partai Berkarya dan terdaftar sebagai calon legislatif (caleg) daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat XI. Motivasinya, ingin memberikan yang terbaik bagi masyarakat.

"Saya bertekad mewakafkan diri saya untuk Indonesia lebih baik," ujar Donny Kesuma, mantan atlet softball bertubuh kekar ini, Selasa 27 Maret 2019.

Menurut Donny, Partai Berkarya baru berusia dua tahun tapi menyita perhatian masyarakat karena mengemban cita-cita luhur Pak Harto. Partai didirikan dan dipimpin Tommy Soeharto, putra bungsu almarhum Presiden Soeharto.

Visi Partai Berkarya, masih menurut Donny, adalah cita-cita luhur Pak Harto; membangun sektor pertanian, mengembangkan ekonomi kerakyatan dengan kearifan lokal, menjadikan Indonesia mandiri pangan dan energi, dan mengembalikan kewibawaan Indonesia di dunia internasional.

"Di era Pak Harto, sektor pertanian menjadi prioritas utama sehingga Indonesia dihormati di forum regional dan internasional," kata caleg yang tak lelah menyambangi calon konstituennya di Kabupaten Garut, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya.

Donny mengatakan
Khusus situasi dapil-nya potensi ekonomi sektor pertanian di Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya sangat luar biasa. Namun pelaku usaha dan petani kekurangan informasi dan jaringan untuk pengembangan usaha dan peningkatakan kualitas produk.

"Harus ada yang bisa mengatasi keadaan ini para petani membutuhkan penyuluh pertanian yang mampu memberikan informasi dan teknologi pertanian yang mutakhir serta pengetahuan soal ekonomi, dan jaringan ke pengusaha mapan," tutup Doni, pria kelahiran Bandung 6 Juni 1968 itu. (*)

Siti Hediyati Rukmana. (foto: smsi)
JAKARTA, JNNews -- Selalu menyediakan waktu untuk mengunjungi alim ulama dan para santri penuntut ilmu agama di berbagai pesantren merupakan salah satu amanat Presiden Soeharto kepada anak-anaknya semasa beliau masih hidup.

Putra-putri Pak Harto pun terus menghidupkan kebiasaan tersebut sebagai salah satu bakti mereka kepada Sang Ayah.

Kenyataan itu dibeberkan Mbak Tutut kepada wartawan dalam sebuah pertemuan informal di rumah kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Menurut Mbak Tutut, kebiasaan Pak Harto itulah yang membuat almarhum memiliki kedekatan dengan berbagai ulama dan pesantren yang mereka pimpin, saat Pak Harto mengemban amanat sebagai presiden.

Salah seorang kyai yang dikenalnya sangat dekat dengan Pak Harto adalah KH Muhammad Ma’sum, pendiri dan Pembina Pondok Pesantren Al-Ishlah, Bondowoso, Jawa Timur.

“Sebagai wujud meneladani almarhum Bapak pula, maka perjalanan mengunjungi beberapa pesantren di Jawa Timur ini kami lakukan,” kata Mbak Tutut.

Bersama adiknya Siti Hutami Endang Adiningsih atau Mbak Mamiek, rombongan Putri sulung Pak Harto itu akan mengunjungi pesantren Tambak Beras di Jombang dan Pondok Pesantren Al Kamal di Blitar.

Sebagaimana diketahui masyarakar luas, Pak harto semasa hidupnya rajin melakukan kunjungan incognito atau blusukan ke berbagai pesantren. Bedanya, saat itu Pak Harto tidak pernah membawa rombongan kru media dan kru televisi.

Misal, pada 25 Juli 1970 Pak Harto bersilaturahmi ke Pesantren Tebuireng, Jombang, dalam rangkaian kunjungan incognito beliau menuju pesantren, Pak Harto sempat singgah di Desa Sentul, Kecamatan Tembalang, Jombang, untuk menyaksikan proyek Bimas setempat.

Di sana Pak Harto melihat sebuah pameran hasil bumi dan kerajinan yang digelar penduduk. Momen itu bisa dilihat dalam gambar di Museum Purna Bhakti Pertiwi.

Pesantren pertama yang dikunjungi Pak Harto saat itu adalah Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Tambakrejo-Jombang. Pesantren ini didirikan Kyai Haji Abdus Salam, pengikut Pangeran Diponegoro yang dikenal dengan nama Mbah Soichah, tahun 1825 -- atau di masa akhir Perang Jawa.

Dari pesantren ini tampil KH Abdul Wahib Wahab yang menjadi menteri agama era Presiden Soekarno. Di pesantren ini pula, dulu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) pernah menimba ilmu.

Pada rangkaian kunjungan itu Pak Harto juga bersilaturahmi ke Pesantren Darul Ulum, Rejoso, dan Pesantren Mambaul Maarif di Denanyar, serta Pesantren Tebu Ireng.

Pesantren Tebu Ireng adalah pesantren terkemuka yang didirikan KH Hasyim Asy’ari tahun 1899. Bisa dibilang itulah induk pesantren-pesantren di Jawa Timur. Sejumlah tokoh penting dalam dunia politik Indonesia lahir dari pesantren ini. Antara lain KH Wahid Hasyim, KH Yusuf Hasyim, KH Abdurahman Wahid, dan KH Solahudin Wahid. (*)

Aparat TNI/Polri dan masyarakat terlihat kompak memperbaiki runru yang menjadi korban bentrok warga. (foto: yan)
LAMPUNG TENGAH, JNNews -- Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah (Pemkab Lamteng) melaui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perwakim) bersama prajurit TNI/Polri serta masyarakat melakukan gotong royong membangun rumah warga yang menjadi korban konflik sosial di Kecamatan Bumi Ratu Nuban (BRN).

Menurut Kepala Bidang (Kabid) Tata Bangunan Heri Wibowo, rumah yang diperbaiki sejumlah 6 rumah, masing-masing 5 rumah di Kampung BRN dan 1 rumah di Kampung Wates.


"Betul, yang diperbaiki sebanyak 6 rumah, 5 rumah di Bumi Ratu Nuban dan 1 rumah di Wates, kegiatan dilakukan gotong royong antara warga dan TNI/Polri, dan kami sebagai tenaga teknis lapangan," jelas Heri Wibowo mendampingi Kadis Perwakim Rudiyanto, Rabu (27/03/2019).

Tenaga teknis lapangan yang dimaksud Kabid, pengaturan penggunaan tenaga kerja dari aparat TNI/Polri dan masyarakat juga didalamnya untuk pembuatan pagar, kandang ayam dan pasang genting

"Teknis pembuatan pagar, kandang ayam, dapur, pagar dan pasang genteng, atur penggunaan tenaga kerja tni polri dan masyarakat," ungkap Heri Wibowo.

Informasi yang didapat dilapangan, pembangunan tersebut ditargetkan selesai dalam 10 hari sejak dimulainya tanggal 22 Maret 2019. (jn)

Tommy Soeharto. (foto: net)
CIANJUR, JNNews -- Ketua Umum Partai Berkaya Tommy Soeharto, Senin 25 Maret 2019, mengunjungi Kabupaten Cianjur untuk memberikan bukti program ekonomi kerakyatan dan pembangunan sektor pertanian yang diusung partainya bukan isapan jempol.

"Sektor pertanian Indonesia jalan di tempat, di tengah kian berkembangnya pertanian negara-negara tetangga, oleh karenanya partai berkarya berkomitmen memberikan solusi terhadap masalah ini," kata Tommy Soeharto usai panen raya di Desa Sukasirna, Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Masih menurut putra bungsu Presiden Soeharto itu, solusi yg kita tawarkan melalui Partai Berkarya adalah program ekonomi kerakyatan dengan kearifan lokal dan penggunaan pupuk cair bregadium teknologi hypernano serta keringanan
memperoleh pupuk dengan cara bayar setelah panen.

"Kearifan lokal adalah tradisi dan budaya bercocok tanam masyarakat. Partai Berkarya akan merevitalisasinya untuk meningkatkan hasil produksi," kata Tommy Soeharto dalam dialog dengan para petani.

Seperti di Purbalingga, Partai Berkarya melakukan uji percontohan penggunaan pupuk bregadium teknologi hypernano di beberapa petak sawah di Desa Sukasirna. Hasilnya, produksi padi mencapai enam ton jauh di atas rata-rata produksi per hektar secara nasional.

Secara umum, hasil produksi padi petani binaan Partai Berkarya naik 30 persen dengan demikian nyatalah bahwa penggunaan pupuk bregadium adalah solusi untuk meningkatkan produksi pangan nasional dan menyejahterakan petani.

"Kami memberi bukti bukan janji," kata Tommy Soeharto.

Selain pupuk, Partai Berkarya juga membangun Saung Berkarya di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat. Membentang seluas tiga hektar, Saung Berkarya adalah miniatur desa mandiri energi dan pangan. Rencananya, Tommy Soeharto akan membangun Saung Berkarya di setiap kabupaten, agar masyarakat desa belajar bagaimana mandiri energi dan pangan.

Tidak ada listrik di Saung Berkarya. Kebutuhan energi; untuk memasak, penerangan, mesin penetasan telur ayam, dan lainnya, menggunakan biogas kotoran sapi. Ada tujuh ekor sapi, dengan produksi kotoran cukup untuk membuat biogas, ayam petelur yang memenuhi kebutuhan gizi harian, dan kebun berbagai sayuran dan lokasi pembibitan yang tidak menggunakan pupuk kimia.

Kotoran sapi yang telah diambil gas-nya digunakan sebagai pupuk. Untuk pestisida, Saung Berkarya menggunakan air kencing sapi. Saung Berkarya adalah solusi bagi pembangunan pertanian secara terpadu.

Menurut Tommy, selama 21 tahun reformasi sektor pertanian terabaikan. Kesejahteraan masyarakat, terutama petani, cenderung menurun. Produk pertanian lokal tak berdaya, dan menjadi kelas dua, di tengah serbuah produk impor.

"Partai Berkarya berkomitmen melakukan perubahan, tidak hanya menyejahterakan petani, tapi juga buruh, nelayan, dan masyarakat kecil lainnya, itulah fokus Partai Berkarya, yang mengusung tagline Indonesia Berkarya," pungkas Tommy Soeharto mengakhiri, yang disambut tepuk tangan peserta dialog dan masyarakat yang hadir pada panen raya. (*)

Nurfitria Farhana. (foto: smsi)



JAKARTA, JNNews -- Nurfitria Farhana, calon legislatif (caleg) DPR RI dari Partai Berkarya, berharap ada wakil majelis taklim di parlemen hasil Pemilu 2019.

"Saya melihat majelis taklim dirangkul oleh partai-partai politik hanya saat event politik saja, tidak ada jaminan dari partai-partai, terutama yang merangkul, mengangkat aspirasi majelis taklim," ujar perempuan Betawi putri almarhum Prof. Hj. Tutty Alawiyah ini

Nurfitria, demikian perempuan kelahiran Jakarta 18 Januari 1968 dipanggil rekan-rekan dekatnya, tercatat sebagai caleg daerah pemilihan (dapil) DKI Jakarta II yang meliputi Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan luar negeri. Ia akan bertarung dengan politisi senior Hidayat Nur Wahid, Biem Benjamin -- putra seniman Betawi Benjamin S, dan sejumlah nama dari partai lain.

Sehari-hari, Nurfitria bergerak di bidang dakwah, pendidikan, dan sosial Ia aktif sebagai ketua di organisasi Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) DKI Jakarta. Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) didirikan Hj. Tutty Alawiyah tahun 1981. Tahun 2016, BKMT memiliki 15 juta anggota se Indonesia, yang 90 persen wanita.

"Majelis taklim, dan kelompok-kelompok pengajian, terkadang dianggap sebelah mata," kata ibu tiga anak yang belum pernah terjun ke politik ini.

Lebih lanjut Nurfitria mengatakan bahwa Majelis Taklim adalah kelompok masyarakat akar rumput, kelompok inilah yang ada di hampir semua permukiman di kota maupun desa. Namun selama ini majelis taklim tak punya sosok yang memperjuangan aspirasinya di parlemen.

"Saya akan buktikan majelis taklim dan kelompok pengajian adalah kekuatan politik yang patut untuk diperhitungkan," tegas Nurfitria

Keinginan lain Nurfitria adalah memperjuangkan peningkatan porsi perempuan di parlemen. Menurutnya, yang bisa memperjuangkan kepentingan perempuan, ya perempuan.

Selama empat kali Pemilu di era reformasi, jumlah perempuan di parlemen tidak pernah menyentuh angka 30 persen. Tahun 1999, usai pemilu pertama era reformasi, jumlah perempuan di parleman hanya 8,80 persen dari 560 anggota DPR RI. Tahun 2004 meningkat jadi 11,82 persen. Tahun 2009 menjadi 17,86 persen, dan turun sedikit ke angka 17,32 persen pada Pemilu 2014.

Sebagai wajah baru di pertarungan memperebutkan kursi DPR RI dari ibu kota, Nurfitria memiliki modal sosial yang luar biasa besar. Ia dikenal seluruh anggota BKMT DKI, dan mengasuh 300 anak yatim. Ia aktif di sekolah dan universitas yang diwariskan orang tuanya, dan mengenal banyak mahasiswanya. (*)


Bandar Lampung, JNNews -- Aprilani Yustin Ficardo melantik Endah Kartika Prajawati Agung sebagai Ketua TP PKK, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dan Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kabupaten Lampung Utara (Lampura) masa bakti 2019-2024, di Gedung Pusiban, Kantor Gubernur Provinsi Lampung, Senin (25/03/19). Pelantikan ditandai dengan penyematan Pin ( pin PKK dan Dekranasda) dan pemasangan Selempang Bunda Paud oleh Ibu Yustin kepada Endah Kartika.

Dalam sembutannya, Ibu Yustin menyampaikan agar Ketua yang baru dilantik melanjutkan program program, seperti PKK yang selama lima tahun kepemimpinan sebelumnya telah memiliki banyak prestasi baik tingkat Provinsi Maupun Nasional.

“Pada Era Digital saat ini peran PKK, PAUD, dan Dekranasda sangat dibutuhkan untuk membangun perkembangan keluarga yang pada akhirnya membentuk karakter bangsa “, terang Yustin.
Yustin mengajak Endah Kartika terus menjaga dan meningkatkan rasa persaudaraan, kekeluargaan, serta kebersamaan dalam hubungan internal organisasi PKK, Dekranasda dan PAUD. Juga, lebih meningkatkan koordinasi serta kerjasama lintas sektoral antara organisasi wanita dan dinas terkait, untuk mendukung serta mensukseskan program-program Pemerintah Kabupaten Lampung Utara.

“Kepada ketua yang baru dilantik saya juga berharap dapat lebih meningkatkan pembinaan masyarakat hingga ke tingkat kecamatan dan desa, sehingga tercapai peningkatan kapasitas dan ketrampilan kaum perempuan untuk lebih mandiri dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Tak kalah penting, tingkatkan juga koordinasi dan kerjasama diantara semua stakeholder untuk pemerataan pelayanan PAUD dan meingkatkan kapasitas perempuan di Lampung Utara,” kata Yustin.

Bupati Agung Ilmu Mangkunegara yang turut hadir dalam acara itu menyampaikan harapannya agar Program PKK Dekranasda Dan PAUD Lampung Utara dapat terus menjaga sinkronisasi dan sinergitas dengan Pemerintah Kabupaten Lampung Utara.

“Saya percaya dan yakin PKK Lampung Utara akan terus bersinergi dengan Pemkab dan meningkatkan kapasitas perempuan. Sebab, kalau perempuannya baik maka jayalah negaranya tetapi sebaliknya jika buruk perempuannya maka runtuhlah negaranya”, kata Agung mengutip perkataan Negarawan dan juga Proklamator RI Soekarno. (ella/rls)


Bandar Lampung, JNNews -- Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo melantik dan mengambil sumpah jabatan Bupati dan Wakil Bupati Lampung Utara Agung Ilmu Mangkunegara dan Budi Utomo Periode 2019-2024, di Gedung Balai Keratun Lt. III, Kompleks Kantor Gubernur, Bandarlampung, Senin (25/3/2019).
Pelantikan ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: 131.18-399 tahun 2019 dan 132.18-400 tahun 2019 tentang pengangkatan Bupati dan Wakil Bupati Lampung Utara, Provinsi Lampung.

Atas nama Pemprov Lampung dan pribadi, Gubernur Ridho Ficardo mengucapkan selamat atas terpilihnya Agung Ilmu Mangkunegara dan Budi Utomo sebagai Bupati dan Wakil Bupati Lampung Utara Periode 2019-2024.

"Selamat bertugas kepada Bupati Agung Ilmu Mangkunegara dan Wakil Bupati Lampung Utara Budi Utomo. Semoga ke depannya, Bupati dan Wakil dapat terus berperan aktif dalam pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Lampung Utara, khususnya bagi Provinsi Lampung," ujar Gubernur.

Gubernur menuturkan bahwa Lampung Utara merupakan salah satu Kabupaten tertua di Provinsi Lampung. Bahkan pernah menjadi Kabupaten terluas melebihi separuh dari luas Provinsi Lampung. "Kabupaten Lampung Utara harus menjadi lokomotif dari kabupaten-kabupaten yang dulunya merupakan kabupaten Lampung Utara. Tentunya ini merupakan misi besar dalam menjadikan Lampung Utara menjadi bagian utama, induk, dan tak tertinggal dari kabupaten yang dilahirkan dan dimekarkan dari kabupaten Lampung Utara," jelas Gubernur Ridho.

Ridho mengingatkan masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus ditingkatkan dalam meningkatkan pembangunan dan upaya dalam mensejahterakan masyarakat Lampung Utara, seperti peningkatan pembangunan infrastruktur, peningkatan kesehatan, pendidikan, penurunan kemiskinan, penurunan pengangguran, dan disektor lainnya. "Dalam melakukan pembangunan, indikator utamanya adalah untuk mensejahterakan masyarakat yang ada di wilayahnya," ujar Ridho.

Oleh sebab itu, Gubernur Ridho berpesan kepada seluruh jajaran Pemkab Lampung Utara memberikan dukungan soliditas, menyeluruh, dan integral kepada Bupati dan Wakil Bupati Agung Ilmu Mangkunegara dan Budi Utomo dalam memajukan Kabupaten Lampung Utara, serta mensinkronisasikan kebijakan daerah kabupaten Lampung Utara dengan Pemprov Lampung.
Gubernur Ridho berharap Bupati dan Wakil Bupati mampu menjalankan amanah dan melanjutkan perjuangan dalam membangun Lampung Utara, sehingga keberlangsungan Kabupaten Lampung Utara dapat berjalan dengan baik dan optimal untuk kesejahteraan masyarakat Lampung, khususnya Masayarakat Lampung Utara. (ella/rls)


SUKABUMI, JNNews -- Tommy Soeharto, Ketua Umum Partai Berkarya, berjanji membangun pesantren mandiri atau eko pesantren dengan program pendidikan berbasis internet.

"Kami sudah bekerjasama dengan pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mewujudkan rencana ini yang akan membantu santri dalam mengembangkan perekonomian pesantren," kata putra bungsu almarhum Presiden Soeharto yang bernama asli Hutomo Mandala Putra, saat berkunjung ke Desa Pawenang, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Masih menurut Tommy Soeharto, santri tidak hanya sekadar pintar berdakwah tapi juga mampu mengembangkan perekonomian. Sehingga, kelak santri bisa hidup mandiri.

"Pesantren mandiri akan menjadi percontohan," kata Tommy Soeharto di hadapan santri Ponpes Al-Qurthubiyyah, Desa Pawenang, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Menggunakan mobil bernomor polisi B 1253 PYA, Tommy Soeharto tiba di Desa Pawenang didampingi Letjen (Purn) Yayat Sudrajat, Wakil Ketua Umum DPP Partai Berkarya, Wasekjen Partai Berkarya Rita Irawati Priatna, dan puluhan anggota Laskar Berkarya.

Di Ponpes Al-Qhurthubiyyah, Tommy Soeharto disambut oleh KH. M. Mustofa.

"Semoga kedatangan Pak Tommy Soeharto membawa keberkahan dalam pengembangan pendidikan diniyah, tsanawiyah, aliyah, dan menciptakan generasi bangsa yang sholeh dan sholehah," pungkas KH. M. Mustofa

Dalam dialog dengan petani Desa Pawenang, Tommy Soeharto menyampaikan program Partai Berkarya yang akan mengembangkan ekonomi kerakyatan dengan kearifan lokal. Ekonomi rakyat, katanya, adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

"Kita akan bina petani mulai dari mendapatkan bibit unggul, teknik bercocok tanam yang baik dengan biaya murah, dan membantu pemasaran hasil produksinya, khusus untuk pemasaran, Partai Berkarya akan berusaha membantu agar petani tidak tergantung pada tengkulak," Tegas Tommy Soeharto.

Tommy Soeharto tidak pernah bertani, tapi dia belajar serius dan membangun Saung Berkarya di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat. Saung Berkarya adalah miniatur pertanian terpadu, yang di dalamnya terdapat peternakan sapi, ayam petelur, dan domba, pertanian berbagai jenis sayuran skala ekonomi, dan rumah bibit.

Tidak ada listrik di Saung Berkarya, karena energi untuk penerangan, pemanasan penetasan telur dan memasak di dapur menggunakan biogas kotoran sapi. Tidak ada penggunaan pupuk kimia. Seluruh tanaman menggunakan pupuk kandang, yaitu kotoran sapi yang telah diambil gas-nya.

Untuk meningkatkan produktivitas, Saung Berkarya menggunakan pupuk bregadium teknologi nano. Pupuk cair paling ekonomis ini telah diuji coba di lahan percontohan di Banyumas. Hasilnya, produksi padi meningkat 30 persen lebih.

Mengenai target yang akan di capai Partai Berkarya di Jawa Barat, Tommy Soeharto mengatakan Jawa Barat adalah basis suara kami.

"Saya berharap seluruh warga menggunakan hak pilihnya, dan Partai Berkarya mendapat satu kursi dari setiap daerah pemilihan (dapil) di Jawa Barat," tutup Tommy. (*)


Jakarta, JNNews -- Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto menyampaikan agar warga yang tinggal di lingkungan rumah susun Muara Angke, Jakarta Utara, untuk selalu memperhatikan kesehatan, baik untuk diri pribadi, keluarga, maupun tetangga di lingkungan rusun.

"Masih tingginya penduduk miskin, stunting atau kurang gizi kronis bagi bayi dan balita, terlebih lagi angka kematian bayi dan ibu melahirkan, seharusnya menjadi perhatian pemerintah," ucap Titiek Soeharto, Minggu (24/3/2019).

Dalam hasil Survei Dasar Kesehatan Indonesia tahun 2012, menurut Titiek Soeharto disebutkan bahwa dari setiap seribu kelahiran di Indonesia, ada sembilan belas bayi yang di antaranya meninggal.

"Ini begitu sangat memprihatinkan," ungkap titiek.

Kesehatan ibu dan anak masih menjadi masalah di Indonesia. Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia 2017, dari sekitar 291.447 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di Indonesia hanya 164.867 Posyandu yang aktif atau 56,57 persen.

Padahal, dulu Pak Harto yang menggagas dan mengembangkan Posyandu yang diakui berhasil memberi kehidupan yang lebih baik bagi ibu dan anak.

Posyandu menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan penyakit, khususnya pada ibu dan anak. Apalagi, metode pencegahan kini dijadikan prioritas ketimbang penyembuhan oleh Kementerian Kesehatan.

Kedatangan Titiek Soeharto ke rusun Muara Angke disambut warga rusun yang saat itu sedang menunggu giliran dipanggil untuk pengobatan gratis. Mengetahui Titiek Soeharto datang, langsung bangkit dari tempat duduk. Menghampiri untuk bersalaman dan berfoto bersama.

Tanpa merasa lelah, Titiek Soeharto menghampiri setiap meja dokter yang sedang melakukan pemeriksaan warga rusun Muara Angke. Dia menyapa, berdialog, memberikan motivasi kepada warga rusun akan pentingnya menjaga kesehatan.

Kehadiran Titiek Soeharto memberikan semangat warga rusun Muara Angke. Sekitar 300 orang berkumpul di lapangan depan rusun Muara Angke menikmati pengobatan gratis yang diadakan oleh Tim Rabu Biru Indonesia bekerja sama dengan beberapa caleg partai.

Seorang warga rusun, Syarifudin mengatakan, "Ibu Titiek Soeharto cerminan dari Pak Harto. Ibu Titiek berinteraksi langsung, berdialog dengan masyarakat seperti kita yang tinggal di lingkungan rumah susun," kata Syarifudin yang kesehariannya bekerja sebagai pengemudi ojek online. (*)


BATAM, JNNews -- Adanya Permasalahan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar, yang selama ini sudah sering terjadi di kota Batam, pihak Polresta Barelang menggelar rapat koordinasi bersama pihak dinas Perindustrian, Pertamina, dinas Perdagangan dan  Dinas Perhubungan Kota Batam dan instansi-instansi terkait, Kamis (21/3/2019).


Hasil Rakor tersebut, Kapolresta Barelang, Kombes Pol Hengki, menyampaikan, stok ketersediaan BBM jenis solar di Batam sangat mencukupi.

"Kita simpulkan bahwa BBM khususnya jenis bensin dan solar kuotanya sangat mencukupi di Batam, melihat dari kekhawatiran masyarakat ketika antri di SPBU, takut BBM itu habis, saya tegaskan kepada masyarakat, tidak perlu panik, stok BBM jenis premium, solar maupun Pertamax di Kota Batam stoknya cukup,” tegas Kapolres.

Dijelaskan juga, selama ini pihak Pertamina suplay bahan bakar minyak premium maupun solar dikirim tiap hari kurang lebih 107 kiloliter sampai dengan 109 Kiloliter, sekarang akan ditambah menjadi 120 kiloliter per harinya, Sehingga diharapkan penyebaran minyak BBM bisa merata kepada SPBU sesuai kuota kontraknya,” jelas Hengki.”
“Jadi masyarakat tidak perlu khawatir, dan jangan berprasangka buruk ketika melihat antrian di SPBU,”tegas Hengki.


Hengki, juga menegaskan terkait dengan pengisian BBM yang selama ini, yang menggunakan drigen yang di duga ilegal, pihaknya memastikan bahwa itu adalah legal atau resmi, Pengisian BBM yang selama ini menggunakan drigen itu adalah Legal, karena mereka membawa surat resmi terutama untuk para nelayan, bila ada pelanggaran pengisian BBM akan kita tindak” tegasnya.


Dan laporan dari masayarakat adanya pemungutan liar di wilayah SPBU tersebut, melalui Kasat Reskrim POLRESTA barelang akan penyelidikan lebih lanjut, untuk memastikan hal tersebut.paparnya.


Dikatakan, pihak Pertamina bersama Kapolresta Barelang, Kapolsek jajaran kota Batam serta Disperindag kota Batam akan melakukan monitoring serta pengawasan peredaran BBM bersamaan perlindungan konsumen di kota Batam
“Jadi kedepannya, kita akan melakukan monitoring serta pengawasan peredaran BBM dikota Batam, hal ini akan kita lakukan secara rutin dan terus kita pantau seterusnya.


Selain itu, Hengki menghimbau kepada pihak Pertamina khususnya para pengelola SPBU yang sedang dalam perbaikan segera di perbaiki jangan sampai berlarut-larut karena ini juga salah satu pelayanan dan kelancaran pendistribusian BBM kepada masyarakat," tutup Kapolres. (hany)


BATAM, JNNews -- Lima perusahaan platinum di kota Batam mendapatkan award atau penghargaan bergengsi dari BPJS Ketenagakerjaan kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri).

Kelima perusahaan tersebut, Bright PLN Batam memenangkan Award pada Kategori Best Tepat Bayar.

Selanjutnya Sumitomo Siring System Indonesia juga meraih Award pada kategori Batam, Tehnik Best e-saldo dan Kategori Pelaporan Administrasi beserta TEC Indonesia Kategori Best Zero Accident dan Best Philips Validasi Kepersertaan.

Surya Rizal Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Batam, Mengatakan perusahaan platinum yang telah meraih Award di ajang tahunan ini,

"Telah menjadi contoh terbaik pada kategorinya masing-masing dengan nilai tertinggi. Kelima Perusahaan tersebut berkontribusi besar terhadap perusahaan program BPJS ketenaga kerjaan" ungkap Surya.

Dalam pelaksanaan kegiatan Costumer Relationship Management (CRM) bersama 80 perusahaan platinum di Batam digelar di KTM Resort Sekupang, Batam, Rabu (20/3/2019). (hany)


TASIKMALAYANA, JNNews -- Sarimaya, calon legislatif (caleg) DPR RI daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat XI, memberikan bukti bahwa Partai Berkarya tidak sekadar janji membangun ekonomi kerakyatan dengan Koperasi Mustika Galunggung.

"Ini wujud nyata ekonomi kerakyatan," kata caleg yang akan bertarung di Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Garut.

Mengutip ketua umum Partai Berkarya Tommy Soeharto, Sarimaya mengatakan ekonomi kerakyatan adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Ekonomi kerakyatan harus dibangun dengan kearifan lokal.

Koperasi, masih menurut Sarimaya, adalah bentuk ekonomi kerakyatan. Di era Presiden Soeharto, koperasi di bangun sampai ke tingkat desa, dan menggerakan perekonomian rakyat.

"Koperasi Mustika Galunggung didirikan tahun 2017, tapi mulai berjalan Agustus 2018 dengan jumlah anggota seratus ribu orang," kata Sarimaya dalam wawancara telepon, Sabtu 23 Maret 2019.

Koperasi bekerjasama dengan petani, memberi petani sarana produksi, benih, pupuk pestisida dan ongkos keraja. Saat panen tiba, koperasi dan para petani berbagi hasil.

"Enam puluh persen hasil panen dimiliki petani, 40 persen untuk koperasi," kata wanita kelahiran 19 Januari 1959 itu.

Lainnya, masih menurut Sarimaya, petani mendapatkan asuranti. Jika gagal panen, asuransi akan membayar nilai pertanggungan. Sarimaya mengatakan asuransi ini merupakan bentuk perlindungan kepada petani.

Sejak Januari 2018, Koperasi Mustika Galunggung bekerjasama dengan GORO untuk membangun usaha penjualan sembako. GORO menyediakan sembako, yang dijual ke masyarakat di bawah harga mini market.

Masyarakat pemilik toko eceran kecil akan dimanja oleh Koperasi Mustika Galunggung, karena bisa mengambil semua komoditas dengan pembayaran belakangan.

"Kami meringankan masyarakat dan usaha kecil dan menengah (UKM)," kata Sarimaya.

Mengenai keputusan berkarier di politik bersama Partai Berkarya, Sarimaya mengatakan; "Saya ingin berperan serta membangun bangsa, menyejahterakan rakyat, dan terlibat dalam pembuatan undang-undang untuk kepentingan rakyat."

Sejak mengenakan rompi Partai Berkarya, Sarimaya aktif menyambangi masyarakat desa di Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasik, serta berdialog dengan warga Kota Tasikmalaya. Ia menyampaikan visi Partai Berkarya; membangun ekonomi kerakyatan dengan kearifan lokal.

"Saya katakan kepada setiap orang betapa Partai Berkarya menawarkan solusi bagi masa depan bangsa," katanya. "Partai Berkarya peduli terhadai kaum lemah, dan menawarkan program yang menyentuh semua lapisan."

Sebagai penutup, Sarimaya mengatakan pembangunan ekonomi kerakyatan adalah segalanya. Ekonomi yang kuat dan merata, lanjutnya, menciptakan stabilitas sosial. (*)


BANYUMAS, JNNews -- Di usia 70 tahun yang tengah dijalaninya, bepergian jauh tentu sudah tak lagi terlalu menarik hati Siti Hardiyanti Rukmana. Apalagi bila perjalanan itu dilakukan lewat transportasi darat, ke sebuah tempat yang jaraknya ratusan kilometer dari kediaman, tempat ia biasa bercengkerama dengan cucu-cucu di usia mereka yang lucu-lucu.

Namun tidak demikian buat Mbak Tutut, demikian putri pertama Presiden Soeharto itu biasa disapa. Barangkali benar, perjalanan yang bolak-balik memerlukan waktu dalam cakupan hari itu membuatnya berjarak dengan anak dan cucu. Mungkin iya, waktunya untuk momong cucu dan memberikan kasih sayang serta atikan budi pekerti itu terkurangi.

Namun Mbak Tutut melihat lain. Di sana, pada rentang jarak ratusan kilometer itu ada sekian banyak warga masyarakat menunggu. Mereka telah menyatakan rindu. Tak hanya untuk bertemu, karena seringkali pertemuan dirinya dengan warga itu menjadi tempat mereka mengadu.

Maka seperti sekian kali malam-malam terdahulu, Kamis malam 21 Maret lalu pun menjadi saksi tinggi dan dalamnya kepedulian Mbak Tutut untuk kemaslahatan negeri. Sedikit lewat tengah malam, segera setelah pintu mobil ditutupkan, rombongan pun bergerak cepat. Tujuannya Keresidenan Banyumas, tepatnya Desa Jambudesa, Kecamatan Karang Anyar Kabupaten Purbalingga. Esok hari, pagi-pagi sekali, bersama para petani dan warga yang bersuka cita memetik jerih payah, Mbak Tutut, Tommy Soeharto dan Bambang Trihatmodjo akan ikut berpanen raya.

“Di mobil ini, selama perjalanan saya seringnya tidur,” kata Mbak Tutut kepada wartawan di Hotel Desa Wisata, Taman Mini, sepekan sebelumnya. Mbak Tutut sedikit terkekeh. Mungkin agak geli dengan pertanyaan wartawan yang ‘kepo’ sampai bertanya apa saja yang dilakukannya selama perjalanan-perjalanannya menyapa warga di sekian banyak daerah itu.

Di mobil Mercedes Sprinter Van yang kerap disopiri Iqbal dan Syamsul itulah memang, sekian waktu Mbak Tutut selama perjalanan dilewatkan. Mobil van yang lebih besar daripada VW Caravelle itu memang tampaknya nyaman. Tetapi jangan pernah lupa bahwa di usia yang tak lagi muda, kegiatan yang dilakukan Mbak Tutut tergolong membutuhkan stamina dan semangat di atas rata-rata. Asal tahu saja, jarak Jakarta-Purwokerto setidaknya 354 km.

“Selama perjalanan, kami dua kali sempat beristirahat di rest area,” kata Tomo, anggota rombongan yang berada di kendaraan lain. Sekali di jalur tol Cipali, sekali lagi di perjalanan antara Cirebon-Tegal. “Ibu Tutut keluar sekali, untuk pergi ke toilet,” kata dia.

Rombongan itu sampai di tempat transit di Purwokerto sekitar pukul 06.30 pagi. Hanya ada waktu sekitar satu jam buat Mbak Tutut sebelum bergerak lagi untuk ikut berpanen raya di Purbalingga. Saat menyapa wartawan sebelum kembali masuk mobil, dan bergerak, paras muka Mbak Tutut tak sedikit pun menampakkan keletihan.

“Wajah itu cerminan jiwa kita,” kata Mbak Tutut, saat kembali bertemu wartawan di kediaman adiknya, Bambang Tri, di Purwokerto, siang usai acara panen raya. “Bila batin kita senang dan bahagia, wajah kita pun akan secerah kebahagiaan yang kita rasa.”

Namun memang bagaimana mungkin Mbak Tutut tak akan senang. Hari itu ia akan bertemu saudara-saudara yang sangat disayanginya. Ia datang untuk menemani adiknya, Tommy Soeharto, ketua umum Partai Berkarya yang membina para petani yang tengah berbahagia itu. Ada pula Bambang Tri, yang tak kurang memberikan dukungan bagi aktivitas social adik mereka berdua.

“Bapak dan Ibu selalu meminta kita rukun dengan saudara. Meminta kami saling dukung, saling membesarkan. Jadi ini juga bagian dari bakti saya kepada kedua orang tua kami,” kata Mbak Tutut.   

Berkaitan dengan sang ayah, menurut Mbak Tutut ada juga hal yang menjadi resep istimewa untuk menjaga staminanya dalam berkarya demi kemaslahatan bersama.

“Bapak selalu berpesan, “Nduk, libatkanlah selalu Tuhan dalam perjalanan hidupmu. Jangan sekali-kali kamu meninggalkan-Nya,” kata Mbak Tutut.

Tak heran bila saat panen raya itu Mbak Tutut terlihat sangat menikmati. Menikmati dialog dan percakapan dengan warga selama acara. Turut senang melihat wajah-wajah ceria penuh harapan dari para petani dan keluarganya di sawah tempat acara digelar. Tampak jelas, ada saling isi kegembiraan pada panen raya itu. Para petani bahagia tak hanya karena hasil panennya, tetapi juga karena kehadiran Mbak Tutut. Sementara Mbak Tutut sendiri terlihat menyesap keceriaan warga yang menjadi atmosfer acara tersebut.

Sungguh beruntung, keduanya saling memberikan bahagia. Sebab bukankah agama juga menegaskan, salah satu amal ibadah yang sangat disenangi Tuhan dilakukan umatNya adalah manakala umatnya memasukkan kebahagiaan ke dalam hati sesama. (*)


JAKARTA, JNNews -- Ada yang tak biasa di areal car free day (CFD) di jalan Jenderal Sudirman/MH Thamrin Jakarta, Minggu 24 Maret 2019, yaitu poster besar Presiden Soeharto dan Ibu Tien bersepeda, dan orang-orang berebut berfoto di depannya bersama Siti Hediati Hariyadi, putri kedua almarhum Pak Harto yang akrab di masyarakat dengan panggilan Titiek Soeharto.

"Alhamdulillah, banyak sekali warga yang melakukan kegiatan di CFD berfoto bersama Pak Harto dan Ibu Tien bersepeda," kata Titiek Soeharto, saat diminta seorang pengunjung berfoto bersama di depan poster besar Pak Harto dan Ibu Tien bersepeda.

Bagi masyarakat yang ingin berfoto, tersedia dua pilihan; berfoto sambil bersepeda dengan gambar Pak Harto dan Ibu Tien, atau berpose dengan latar belakang Pak Harto dan Ibu Tien bersepeda.

"Masyarakat mendatangi booth foto bersama Pak Harto dan Ibu Tien," ujar Titiek, kader utama Partai Berkarya dan calon legislatif DPR RI dari Yogyakarta nomor urut 1.

Pemasangan booth foto bersama Pak Harto dan Ibu Tien di CFD adalah rangkaian acara Maret Bulan Pak Harto. Jargon yang diusung; Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat.

Jargon itu sempat populer sejak Pak Harto, presiden kedua Republik Indonesia, mencanangkannya saat Hari Olahraga Nasional (Haornas). Masyarakat Indonesia yang kini berusia 45 tahun ke atas tidak akan pernah melupakan jargon itu.

Menariknya, pemasangan booth foto bersama Pak Harto dan Ibu Tien di CFD tidak terganggu peresmian Mass Rapid Transit (MRT) yang berlokasi tak jauh dari tempat itu. Seorang warga Kebon Sirih, misalnya, lebih memilih foto bersama Mbak Titiek dibanding menyaksikan peresmian MRT.

Menurut Titiek, antusiasme pengunjung CFD berfoto di depan gambar besar Pak Harto dan Ibu Tien memperlihatkan ada kerinduan akan kepemimpinan Presiden Soeharto. Seorang warga mengatakan yang tak bisa dilupakan pada diri Pak Harto adalah senyumnya. Lainnya, di era Presiden Soeharto sembako terjangkau semua lapisan masyarakat, alias murah. (*)

Bambang Trihatmodjo. (foto: smsi)
BANYUMAS, JNNews -- Kader utama Partai Berkarya Bambang Trihatmodjo menilai sector pertanian Indonesia berjalan di tempat, di tengah maju dan berkembangnya sector pertanian negara-negara tetangga, terutama Thailand.  Hal itu menjadi salah satu alasan mendasar Partai Berkarya tampil berkiprah dan memberikan solusi. Salah satunya pupuk organic cair hipernano Bregadium.

“Kami merasa 20 tahun lebih reformasi ini sector pertanian menjadi terabaikan. Kesejahteraan masyarakat, utamanya petani relative turun. Sementara produk pertanian kita tak berdaya menjadi produk kelas dua di tengah serbuan produk pertanian negara lain,” kata Bambang, di sela panen raya petani binaan Partai Berkarya di Desa Jambudesa, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Jumat, 22 Maret. Panen raya itu selain dihadiri ratusan warga, juga sejumlah kelompok tani dari berbagai kecamatan di Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas dan Kebumen.

Kesejahteraan rakyat, terutama petani, nelayan, buruh dan kalangan masyarakat kecil lainnya, menurut Bambang menjadi fokus partai yang mengusung tagline Indonesia Berkarya tersebut. Kepedulian akan warga kelas bawah itu menjadi nilai-nilai yang diwariskan sang ayah, Presiden Soeharto. “Banyak fakta yang kami lihat di kehidupan sehari-hari dan kesempatan bertemu untuk bersambung rasa dengan para petani, nelayan, buruh, dan kalangan masyarakat lainnya, membuat kepedulian kami bangkit. Kami merasa sudah saatnya Partai Berkarya bangkit dan memberi solusi kepada negeri,” kata pimpinan kelompok bisnis Bimantara itu.     

Sebagaimana juga pernah dinyatakan Ketua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra, Bambang menegaskan bahwa partainya berkomitmen memberi solusi dan bukti, bukan janji. Salah satu kepedulian itu adalah meningkatkan produksi pangan nasional dan kesejahteraan para petani. Pada sisi itulah pupuk organic cair hypernano yang diberi nama Bregadium, menjadi sumbangan Partai Berkarya. 

Pada panen raya yang digelar di Desa Jambudesa, terbukti hasil produksi per hectare lahan garapan para petani binaan Partai Berkarya jauh di atas rata-rata produksi tanaman padi per hektare umumnya. Jika umumnya per hectare tanaman padi menghasilkan rata-rata 7 ton, rata-rata hasil produksi petani binaan Berkarya mencapai 10,8 ton gabah per hektarenya.

“Apalagi pupuk ini pun organic, jadi para petani pun sebenarnya bisa menjual hasil panennya sebagai beras organic yang tentu memiliki harga jauh lebih tinggi,” kata Bambang.

Yang paling membuat para petani gembira hingga tak mampu menahan sorak sorai, adalah saat Bambang mengumumkan tawaran yang bernilai kepada mereka. “Para petani boleh mengambil pupuk ini,” kata Bambang. “Bayarnya nanti, saat panen!”

Keunggulan-keunggulan lain pupuk cair Bregadium, menurut Bambang, adalah praktis dan hemat. Petani tidak perlu menggunakan alat transportasi, atau bersusah payah menggotong pupuk dalam jumlah banyak, ke persawahan. Dua belas botol pupuk tersebut bisa menggantikan 500 kg hingga 700 kg pupuk biasa.
"Keunggulan lain pupuk ini adalah ramah lingkungan, menjaga bahkan memperbaiki kesuburan tanah, serta menghemat pengeluaran petani sampai 35 persen,"kata Bambang.

Pada kesempatan itu, sebelum berdialog dengan petani, Bambang Tri, Tommy Soeharto dan Mbak Tutut memberi bantuan mesin pembajak sawah, perontok padi, dan mesin pompa air untuk membasahi tanah pertanian. (*)

Sapto Yuli. (foto: smsi)
JAKARTA, JNNews -- Sejak berdiri dua tahun lalu, Partai Berkarya membuka kesempatan kepada semua anak bangsa, termasuk penyandang disabilitas, untuk berpolitik. Sapto Yuli Isminarti, penyandang disabilitas asal Malang, meresponnya.

Sapto Yuli, demikian wanita pengusaha hijab itu, terdaftar sebagai calon legislatif DPRD Kabupaten Malang untuk daerah pemilihan (Dapil) tujuh. Ia yakin mampu memberi sumbangan pemikiran bagi pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) di Kabupaten Malang.


Sapto Yuli di tempat usahanya. (foto: smsi)

"Mbak Tutut yang selalu memberi dorongan bahwa keterbatasan fisik bukan halangan untuk berkarya," kata Sapto Yuli saat ditemui di Hotel Desa Wisata, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rabu (21/3).

Terakhir, dalam dialog dengan anggota Gerakan Bakti Cendana, Mbak Tutut juga kembali memberi dorongan kepada Sapto Yuli untuk bertarung memperebutkan kursi DPRD Kabupaten Malang. Mbak Tutut mengatakan, buatlah mulai dari hal kecil sebagai bagian membangun pondasi bangsa dan negara.

Sapto Yuli lahir dari keluarga miskin, dan dia bersyukur pernah hidup dalam jerat kemiskinan. Ia berusaha keras keluar dari kemiskinan dengan menjadi produsen hijab dan kerudung.

"Dari era Presiden Soeharto sampai saat ini masalah terbesar bangsa adalah kemiskinan, keluarga saya juga miskin dan saya bisa keluar dari kemiskinan," kata wanita pengguna kaki palsu itu.

Menurut Sapto Yuli, upaya keluar dari kemiskinan dimulai dengan berkarya, mendesain hijab dan kerudung, serta memproduksinya. Ia memenangkan banyak order pengadaan hijab, kerudung, t-shirt dan jaket dari berbagai organisasi.

"Penyandang difabel miskin itu pasti terpinggirkan, tapi jika punya semangat dan kemauan berkarya siapa pun bisa keluar dari kemiskinan," katanya.

Sapto Yuli memimpikan difabel di Indonesia memperlihatkan karya di bidang apa saja. Di sisi lain, pemerintah lebih peduli pada kaum difabel.

"Negeri kita sudah mulai ramah kepada kaum difabel, terutama di kota besar namun dibanding negara lain, Indonesia masih tertinggal," ungkapnya.

Ia menyebut Sydney, salah satu kota di Australia, yang memiliki jaringan braille dan tanda tactile atau penunjuk jalan untuk orang yang memiliki gangguan penglihaan paling luas di dunia.

Menjawab pertanyaan wartawan soal kenangan era Presiden Soeharto, Sapto Yuli mengatakan, "saya terinspirasi program pemberdayaan masyarakat yang dicetuskan pada masa pemerintahan Presiden Suharto, yakni Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa (Kelompencapir) yang tak lain kegiatan pertemuan untuk petani dan nelayan di Indonesia. Sekarang saya namakan saja 'Sarasehan Masyarakat Keliling," tandasnya.

Saat itu, lanjut Sapto Yuli, ia berkunjung ke daerah-daerah mengajarkan penyandang disabilitas berwirausaha.

"Saya katakan kepada rekan sesama disabilitas, jika saya bisa berwirausaha kalian juga bisa," katanya.

Menurut Sapto Yuli, keinginan terbesar dalam hidupnya adalah memperjuangkan program Pak Harto mengentaskan kemiskinan lewat pemberdayaan masyarakat, pola hidup sehat, dan mandiri. (*)


BANYUMAS, JNNews -- Ketua Umum Partai Berkarya Tommy Soeharto mengatakan partainya berkomitmen memberi solusi dan bukti, bukan janji, untuk meningkatkan produksi pangan nasional.

Berbicara kepada petani usai panen raya petani binaan Partai Berkarya di Desa Jambudesa, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Jumat (22/3), putra bungsu Presiden Soeharto itu mengatakan bukti yang diberikan Partai Berkarya adalah pupuk bregadium hypernano.

"Uji percontohan di lima titik memperlihatkan penggunaan pupuk ini menaikan hasil panen dari tujuh ton menjadi 10,8 ton gabah per hektar," kata Tommy Soeharto di hadapan sejumlah kelompok tani dari berbagai kecamatan di Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas dan Kebumen.

Jadi, masih menurut Tommy Soeharto, jangan lagi cari NPK tapi gunakan pupuk cair hypernano. Selain meningkatkan hasil panen, pupuk bregadium sangat praktis. Petani tidak perlu menggunakan alat transportasi, atau bersusah payah menggotong pupuk dalam jumlah banyak, ke persawahan.

"Pupuk dikemas dalam bungkus tidak terlalu besar, dan bisa dibawa dengan tangan untuk sampai sawah tujuan," ujar Tommy. "Keunggulan lain pupuk ini adalah ramah lingkungan, dan menghenat pengeluaran petani sampai 35 persen."

Menurut Tommy, Partai Berkarya hadir untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat lewat intensifikasi perkebunan, pertanian, peternakan, dan perikanan. Semuanya menggunakan pupuk bregadium teknologi hypernano.

Bambang Tri, putra ketiga Presiden Soeharto, mengatakan Partai Berkarya juga memberi kemudahan bagi petani pengguna pupuk. "Silahkan ambil sebanyak yang diperlukan, dan bayar saat panen," ujar Bambang Tri, yang disambut tepuk tangan ratusan petani.

Selain Tommy Soeharto, panen raya juga dihadiri Siti Hardijanti Rukmana alias Mbak Tutut, Bambang Trihatmodjo dan Mayangsari, belasan calon legislatif (caleg) Partai Berkarya, dan ratusan petani dari desa-desa sekitar.

Sebelum berdialog dengan petani, Tommy Soeharto, Mbak Tutu, dan Bambang Tri memberi bantuan mesin pembajak sawah, perontok padi, dan mesin pompa air untuk membasahi tanah pertanian.

Tidak hanya menjawab pertanyaan petani binaan, Tommy Soeharto juga menyampaikan visi Partai Berkarya dan sejumlah program. "Kita akan bangun pertanian terpadu," katanya. "Petani tidak sekadar mengolah lahan, tapi juga beternak, agar jerami tidak dibakar tapi untuk pakan ternak."

Pertanian terpadu, masih menurut Tommy Soeharto, akan membuat Indonesia mampu mengurangi impor sapi dan menuju swasembada daging sapi. Saat ini, katanya, Indonesia mengimpor 700 ribu ekor sapi per tahun.

"Kita ingin menghadirkan 100 ribu peternak baru, yang membuat Indonesia bisa swasembada daging," kata Tommy Soeharto.

Menurut Bambang Tri, target kita seharusnya bukan lagi swasembada tapi impor. Ini sangat penting untuk meningkatkan devisa negara dan mengurangi utang luar negeri.

Partai Berkarya mendambakan Indonesia yang tidak tergantung utang, sebaliknya memiliki kedaulatan pangan, adil dan makmur. (*)


JAKARTA, JNNews -- Siti Hardijanti Rukmana, putri sulung Presiden Soeharto yang akrab disapa Mbak Tutut mengatakan,  perbedaan dan keanekaragam di berbagai aspek di nusantara tercinta, justru akan memperkaya Indonesia.

“Kita ingin mengembalikan Indonesia yang makmur, menjadi bangsa yang rukun, gotong royong, dan saling bantu berjuang meski ada perbedaan. Indonesia yang kita inginkan adalah bangsa yang bersatu dan tidak saling cakar," demikian di katakan Mbak Tutut saat mengukuhkan Gerakan Bakti Cendana di Hotel Desa Wisata, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rabu (20/3). 

Berbicara selama setengah jam, yang diselingi dialog dengan organisasi Gerakan Bakti Cendana, Mbak Tutut menjelaskan, sesuai ajaran agama Islam, perbedaan adalah rahmat. Jadi, lanjutnya, tidak perlu saling menjelek-jelekan, melainkan melakukan apa yang dapat kita lakukan untuk rakyat Indonesia.

“Apa yang bisa kita lakukan, lakukanlah. Mulailah dari yang kecil,” ucap Mbak Tutut.

Seisi aula Hotel Desa Wisata terdiam, menyimak setiap kalimat yang disampaikan Mbak Tutut dengan suara lembut. Terlebih saat Mbak Tutut mengatakan memulai dari yang kecil untuk membangun bangsa adalah anjuran Ibu Tien Soeharto, ibunda tercinta.

“Ibu Tien mengatakan perbuatan kecil tapi menjadi bagian pembangunan bangsa itu lebih utama, daripada membangun sesuatu yang besar tapi menimbulkan masalah,” tutur Mbak Tutut.

Kepada kader Partai Berkarya, partai yang dinahkodai Tommy Soeharto, Mbak Tutut juga berpesan untuk tidak menyusahkan bangsa. Menurutnya, setiap kader Partai Berkarya harus menunjukan program yang dimiliki untuk membantu negeri.

Pada kesempatan tersebut, Mbak Tutut tidak hanya mengingatkan pesan Ibu Tien, tapi juga tentang nasehat almarhum presiden Soeharto, sang ayah tercinta yang salah satunya adalah  memberikan apa pun untuk bangsa, meski mungkin hanya sebungkus nasi atau uang Rp 10 ribu.

“Jika tidak ada sama sekali untuk diberikan, berilah senyum, makanya, bapak (presiden Soeharto – red) selalu tersenyum, dan dikenang dengan julukan smiling general," pungkas Mba Tutut.

Nasehat lain Pak Harto kepada anak-anaknya, sambung Mbak Tutut, adalah tidak boleh dendam. Sebab, dendam tidak menyelesaikan masalah, tapi membuat masalah baru.

Mbak Tutut juga bercerita jelang Pak Harto mengambil keputusan berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia yang dimulai ketika Pak Harto memanggil seluruh anaknya, dan menyampaikan keinginan mengundurkan diri.

“Bagaimana menurut kalian? Masyarakat sudah ramai meminta bapak berhenti. Saya jawab apa pun keputusan bapak kami tetap mendukung bapak berhenti karena sudah tidak dikehendaki rakyat,” pungkas Mbak Tutut.

Yang juga tidak bisa dilupakan Mbak Tutut adalah ketika Pak Harto memintanya mencarikan buku UUD 45. Saat itu, masih menurut Mbak Tutut,  Pak Harto mengatakan, bapak mau berhenti jadi presiden tapi saya mau memakai kata yang sesuai UUD 45. "Bapak tidak mau mengatakan mengundurkan diri, tapi berhenti dari presiden. Saya katakan kepada bapak, kan berhenti dan mengundurkan diri sama. Bapak mengatakan, tidak. Mengundurkan diri artinya sebagai mandataris rakyat, bapak mundur karena tidak mampu melaksanakan tugas. Berhenti artinya bapak, sebagai mandataris rakyat, disuruh berhenti karena tidak dipercaya lagi. Bukan karena kemauan bapak, tapi karena kehendak masyarakat. Jadi apa yang Pak Harto lakukan, selalu berdasarkan UUD 45. Pak Harto tidak pernah melanggar undang-undang," ungkap Mba Tutut.

“Malam hari, bapak memanggil kami berenam dan menyampaikan keputusan berhenti, Adik saya mengatakan jangan dulu berhenti, beri kami kesempatan membuktikan bahwa sebagian besar rakyat Indonesia mencintai bapak,” Mbak Tutut dengan suara tersendat menahan tangis menyambung ceritanya.

Mba Tutut melanjutkan, respon Pak Harto saat itu,  adalah Sabar. "Kalian tidak boleh dendam. Dendam tidak menyelesaikan masalah, tapi membuat masalah lebih besar. Tidak hanya sekali Pak Harto mengingatkan anak-anaknya untuk tidak dendam, tapi setiap hari," terang Mba Tutut.

Tidak jarang pula Pak Harto menambah nasehatnya dengan Gusti Allah ora sare (tidak tidur). Suatu saat rakyat akan tahu mana yang salah dan benar. Dari hari ke hari nasehat itu menyadarkan dia dan adik-adiknya bahwa keputusan Pak Harto mengundurkan diri adalah yang terbaik untuk bapak dan keluarga.

“Setelah belajar Alquran, saya akhirnya tahu semua nasehat bapak adalah ajaran Allah SWT. Pak Harto selalu bersandar kepada Allah SWT,” ucap Mbak Tutut mengakhiri ceritanya dan membuat semua yang hadir terharu hingga meneteskan air mata.(*)

Andi Surya. (foto: as)
BANDAR LAMPUNG, JNNews -- Hari ini Provinsi Lampung ulang tahun yang ke 54, seluruh masyarakat menyambut dengan riang gembira, "karena hari lahir adalah momentum melakukan introspeksi dan retrospeksi menuju Lampung yang lebih baik dan bermartabat ke depan," ujar Anggota MPR/DPD RI, Andi Surya.

Dilanjutkannya, momentum ulang tahun bukan hanya mencatat capaian yang telah berhasil dilakukan pemerintah, namun yang lebih substansial adalah bagaimana mendorong persoalan-persoalan daerah yang berlum terselesaikan, ujarnya.

"Saya mencatat ada 4 persoalan besar, yaitu; agraria, buruh, daerah otonomi baru (DOB), dan korupsi yang masih membayang di Provinsi ini," sebut Andi Surya.

Yang pertama, Persoalan agraria, menurut Andi Surya, yaitu, reformasi agraria belum menyentuh persoalan Kawasan Register yang telah bertumbuh menjadi pemukiman, lahan Bantaran Rel KA yang terdampak klaim PT. KAI atas dasar Grondkaart Belanda, Hak Pengelolaan Lahan (HPL) Way Dadi dan Panjang Pidada, terakhir masalah Hak Guna Usaha (HGU) yang menguasai hak-hak rakyat dan ulayat.

Kedua, masalah ketenagakerjaan terutama buruh di Pelabuhan Panjang dan di sektor swasta lainnya. Undang-undang dan ketenagakerjaan masih belum sepenuhnya dilaksanakan, "sebagai contoh di Pelabuhan Panjang, buruh dieksploitasi oleh sebuah badan Koperasi TKBM, tidak membayar upah buruh sesuai aturan, anggaran BPJS yang disimpangkan, santunan kematian dan sakit yang terbaikan", ujar Andi Surya.

Ketiga, menurut Andi Surya, persoalan DOB masih menggantung karena DOB ini penting untuk mengatasi kemiskinan dan ketertinggalan, "ada dua DOB yang masih belum dikeluarkan rekomendasi oleh Kepala Daerah yaitu, Sungkai Bunga Mayang dan Natar Agung, sementara dua DOB lainnya; Seputih Barat dan Seputih Timur dalam proses di pemerintah pusat yang juga perlu didukung oleh pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten," urai Andi Surya.

Yang terakhir, menurut Andi Surya, masalah korupsi menjadi persoalan besar di Lampung, "ini ditandai dengan OTT 3 Bupati oleh KPK, menunjukkan virus korupsi sangat mewarnai provinsi ini, ke depan bagaimana korupsi dapat ditekan agar uang rakyat efektif untuk pembangunan daerah," ungkap Andi Surya.

Dilanjutkannya, maka saya memberi masukan kepada Gubernur Lampung dan seluruh stakeholder provinsi dalam momentum Harlah ini mampu menelaah masalah besar di atas, "bukan hanya masalah infrastruktur, pendidikan dan kesehatan saja yang perlu menjadi prioritas tetapi juga masalah kerakyatan seperti ini yang menjadi problem masyarakat bawah. Selamat HUT Lampung," tutup Andi Surya. (rls)

Titik Soeharto. (foto: net)

TASIKMALAYA, JNNews -- Rakyat berpendidikan rendah dan kurang memiliki keahlian seharusnya mendapatkan perlindungan pemerintah dari ancaman tenaga kerja asing tak terdidik. Semestinya kesempatan kerja di lapangan kerja kurang terdidik itu tidak seolah diberikan begitu saja untuk diisi tenaga kerja asing.

Komitmen tegas untuk melindungi tenaga kerja kurang terdidik anak negeri itu disampaikan  Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya Siti Hediati Hariyadi, atau lebih akrab dipanggil Titiek Soeharto, saat memberikan sambutan pada acara penyerahan beasiswa Primajasa Foundation di Gedung Mandalawangi, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa, (19/03/2019). 

Putri Presiden Soeharto itu tak lupa mengamanatkan kepada hadirin, khususnya para penerima beasiswa, bahwa pendidikan menjadi hal yang sangat penting untuk mengubah kondisi ekonomi dan strata social.

Menurut Titiek, setiap agama dan kearifan budaya selalu memberikan penghargaan tinggi kepada belajar atau menempuh pendidikan. 

Dalam Islam, belajar adalah kewajiban setiap Muslim yang berlangsung sejak buaian dan hanya berhenti saat datangnya kematian.

“Ini zaman persaingan terbuka. Bahkan kita lihat, kini untuk pekerjaan sederhana pun harus bersaing dengan warga negara lain,” kata Titiek. 

Ia juga menyayangkan kurangnya komitmen penyelenggara negara untuk melindungi tenaga kerja lokal.

Karena itulah, menurut Titiek, semua warga negara harus terus mendorong generasi penerus untuk mendapatkan kesempatan seluas-luasnya guna menempuh pendidikan. 

“Kita ingin anak-anak kita dapat pekerjaan baik dan menjadi pengusaha muda yang dapat menciptakan karya-karya baru," kata Titiek.

Kehendak berkarya dan mencipta tersebut  juga menjadi semangat yang hidup dalam  Partai Berkarya. Pada saat mengunjungi Kampung Bordir siang harinya, Titiek  mengimbau para pengrajin-pengusaha kecil untuk terus berkreasi. Ia meyakinkan para pengusaha kecil tersebut bahwa hanya dengan berkreasi dan berkarya maka masyarakat bisa membangun kemandirian dan mencapai kesejahteraan.

“Teruslah menjaga semangat untuk berkarya dalam setiap kondisi, Insya Allah, semua akan membawa kepada kondisi yang lebih baik. Allah yang Maha Kuasa selalu menghargai jerih payah hamba-Nya,” tuturnya.

Tentang semangat  untuk senantiasa berkarya itu, menurut mantan wakil ketua Komisi IV DPR RI itu didapatkannya dari sosok ayah, Presiden Soeharto, yang semasa hidupnya selalu menanamkan dan menumbuhkan keyakinan untuk terus berkarya dan membawa kebaikan bagi sesama.

Selain menghadiri dan menyerahkan beasiswa Primajasa Foundation dan mengunjungi serta bersambung rasa dengan para pengrajin-pengusaha kecil di kampung Bordir, selama berada di Tasikmalaya Titiek juga mengunjungi dan bersilaturahmi dengan warga Pesantren Idrisiyyah, Cisayong. (*)
Powered by Blogger.