Halloween party ideas 2015

Ilustrasi animasi Stunting. (foto: net)
LAMPUNG TENGAH, JNNews -- Dinyatakan Kampung Adijaya sebagai kampung penderita Stunting tinggi atau sekitar 30 persen Balita mengalami Stunting masih diragukan sejumlah pihak terutama Kepala Kampung, Ngatino HS, ia tak yakin dengan pernyataan Tim Bina Keluarga Balita (BKB) pada sebuah forum resmi Rapat Koordinasi (Rakor) tingkat Kecamatan Terbanggi Besar yang membahas tentang kesehatan belum lama ini.

Ia berkesimpulan data yang disajikan pada layar slide, perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam atau pengukuran ulang terhadap Balita dikampungnya.

Baca juga: Adijaya Ditetapkan Kampung Penderita Stunting, Kakam Meragukan

"Kami masih meragukan data yang menyatakan di Kampung Adijaya sebanyak 30 persen Balita kami mengalami Stunting dan, kami minta untuk dilakukan pendataan dan pengukuran ulang secara cermat dan akurat," ujar Ngatino, Rabu (15/05/2019).

Menanggapi hal ini,  Kepala Puskesmas Terbanggi Besar, Dr. Dian Mariasari, menjelaskan dan membenarkan, yang sebelumnya Kampung Adijaya dinyatakan sebagai kampung penderita Stunting, namun pihaknya juga masih belum bisa meyakini dan akan melakukan ukur ulang, guna mendapatkan hasil yang benar-benar akurat.

"Memang benar pernah ada pengukuran dan dinyatakan, Kampung Adijaya sebagai kampung penderita Stunting tinggi, tapi kami kurang yakin, untuk itu kami minta diukur ulang, mungkin hasilnya minggu depan," jelas Dr. Dian saat dihubungi journalnusantara.co.id via telepon selulernya, Rabu (15/05/2019).

Sementara Camat Terbanggi Besar, Fathul Arifin, saat dimintai tanggapannya, mengatakan, data awal dari Puskesmas, Balita Stunting di Kampung Adijaya cukup tinggi, tapi atas perintah Bupati untuk dilakukan pendataan ulang secara akurat.

"Data awal dari Puskesmas, Balita Stunting di Kampung Adijaya cukup tinggi, tapi Bupati memerintahkan agar dilakukan pendataan dan pengukuran ulang secara akurat," jelas Fathul melalui sambungan ponselnya, Rabu (15/05/2019).

Ditambahkan Camat, pengukuran awal dilakukan oleh kader Posyandu yang kemungkinan kurang memahami terkait Stunting.

"Pengukuran awal dilakukan oleh kader Posyandu yang mungkin kurang tentang pengukuran  terkait Stunting, untuk kita minta dilakukan pengukuran ulang," tandas Camat.

Karena kesimpangsiuran keberadaan Tim BKB, apakah di Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPP&KB) atau di Dinas Kesehatan, secara tegas disampaikan Kepala Dinas PP&KB Eduart Hartono bahwa, penetapan kampung stunting bukan merupakan kewenangan Tim BKB atau Dinas PPKB,   klarifikasi informasi  tentang penetapan kampung stunting bisa dilakukan pada Dinas Kesehatan.

"Penetapan kampung stunting bukan merupakan kewenangan Tim BKB atau Dinas PPKB,   klarifikasi informasi tentang penetapan kampung stunting bisa dilakukan pada Dinkes Kabupaten Lampung Tengah," kata Kadis PP&KB dalam pesan WhatsAppnya, Rabu (15/05/2019). (jn)

Post a Comment

Powered by Blogger.